Home / Sejarah / Ini Penyebab Arab Saudi tidak Pernah Membantu Palestina

Ini Penyebab Arab Saudi tidak Pernah Membantu Palestina

Bagikan Halaman ini

Share Button

 

 

MORAL-POLITIK.com: Kita pasti bertanya-tanya “mengapa Arab Saudi dan sekutu-sekutunya (Yordania, Kuwait, UEA, dan Irak (sekarang), tidak membantu Palestina yang dibombardir oleh Israel sehingga tercatat (hingga saat ini) 315 tewas dan ribuan luka-luka?”

Ketika pengajian lima tahun yang lalu dan saat ini, jawaban saya tetap sama yaitu: “karena mereka berfaham Wahabi!”

Mungkin orang akan menilai tendensius jawaban putri ini, mungkin juga orang akan menilai mengada-ada dan sebagainya. Tapi faktanya memang demikian. Wahabi dan Kerajaan Saudi Arabia adalah seperti dua sisi mata uang, saling melengkapi dan terkait erat. Kerajaan Saudi Arabia didirikan dengan dukungan penuh dari Yahudi (baca : Inggris) tahun 1843. Meskipun tertatih-tatih karena berhasil ditumpas oleh pemerintah yang sah Kerajaan Turki Utsmani, namun akhirnya mereka berhasil berkuasa hingga saat ini.

Wahabi-Saudi dari awal memang sangat kental dengan cara-cara yang tidak Islami, yaitu, berkhianat, membunuh dan berkawan dengan penjajah (Barat/Yahudi). Data dan fakta menunjukkan bahwa:

Gary Troeller, dalam bukunya The Birth of Saudi Arabia: Britain and the Rise of the House of Sa’ud (London: Frank Cass, 1976), p. 15-16, menyampaikan fakta bahwa: Ketika Inggeris menjajah Bahrain pada 1820 dan mulai mencari jalan untuk memperluas daerah jajahannya, Dinasti Saudi-Wahhabi, yang baru mulai dirintis menjadikan kesempatan ini untuk memperoleh perlindungan dan bantuan Inggeris.

Pada 1843, Seorang Imam Wahhabi (Madzhab Wahhabi), Faisal Ibn Turki al-Saud berhasil melarikan diri dari penjara di Cairo dan kembali ke Najd. Imam Faisal kemudian mulai melakukan kontak dengan Pemerintah Inggeris. Pada 1848, dia memohon kepada Residen Politik Inggeris (British Political Resident) di Bushire agar mendukung perwakilannya di Trucial Oman. Pada 1851, Faisal kembali memohon bantuan dan dukungan Pemerintah Inggeris.

Baca Juga :  Pilot dan pesawat lenyap usai lapor melihat UFO

Dan hasilnya, Pada 1865, Pemerintah Inggeris mengirim Kolonel Lewis Pelly ke Riyadh untuk mendirikan sebuah kantor perwakilan Pemerintahan Kolonial Inggeris dengan perjanjian (pakta) bersama Dinasti Saudi-Wahhabi.

Untuk mengesankan Kolonel Lewis Pelly bagaimana bentuk fanatisme dan kekerasan Wahhabi, Faisal mengatakan bahwa perbedaan besar dalam strategi Wahhabi: antara perang politik dengan perang agama adalah bahwa nantinya tidak akan ada kompromi, kami membunuh semua orang . Sebagaimana ditulis oleh Robert Lacey, dalam bukunya: The Kingdom: Arabia and the House of Saud (New York: Harcourt Brace Jovanovich, 1981), p. 145.

Pada 1866, Dinasti Saudi-Wahhabi menandatangani sebuah perjanjian “persahabatan” dengan Pemerintah Kolonial Inggeris, sebuah kekuatan yang dibenci oleh semua kaum Muslim, karena kekejaman kolonialnya di dunia Muslim.

Perjanjian ini serupa dengan banyak perjanjian tidak adil yang selalu dikenakan kolonial Inggeris atas boneka-boneka Arab mereka lainnya di Teluk Arab (sekarang dikenal dengan : Teluk Persia).

Sebagai pertukaran atas bantuan pemerintah kolonial Inggris yang berupa uang dan senjata, pihak Dinasti Saudi-Wahhabi menyetujui untuk bekerja-sama/berkhianat dengan pemerintah kolonial Inggeris yaitu: pemberian otoritas atau wewenang kepada pemerintah kolonial Inggeris atas area yang dimilikinya.

Perjanjian yang dilakukan Dinasti Saudi-Wahhabi dengan musuh paling getir bangsa Arab dan Islam (yaitu: Inggeris), pihak Dinasti Saudi-Wahhabi telah membangkitkan kemarahan yang hebat dari bangsa Arab dan Muslim lainnya, baik negara-negara yang berada di dalam maupun yang diluar wilayah Jazirah Arab.

Maka ini membangkitkan semangat seorang patriotik bernama al-Rasyid dari klan al-Hail di Arabia tengah dan pada 1891, dan dengan dukungan orang-orang Turki (kerajaan Turki Utsmani), al-Rasyid menyerang Riyadh lalu menyerang klan Saudi-Wahhabi. sehingga beberapa anggota Dinasti Saudi-Wahhabi berhasil melarikan diri ke Kuwait yang merupakan wilayah dibawah kekuasaan Kolonial Inggeris, untuk mencari perlindungan dan bantuan Inggeris; di antara mereka adalah Imam Abdul-Rahman al-Saud dan putranya yang masih remaja, Abdul-Aziz (kelak dari Keturunannya lah lahir Raja, Faisal, Fahd dan Abdullah /Raja Arab saat ini).

Baca Juga :  Benda 2000 tahun temuan ilmuwan ini, bukti-bukti otentik keberadaan Nabi Isa!

Ketika di Kuwait, Abdul-Rahman dan putranya, Abdul-Aziz menghabiskan waktu mereka untuk “menyembah-nyembah” tuannya Inggris, mereka berhasil mendapatkan uang dan persenjataan serta bantuan lain untuk keperluan merebut kembali Riyadh. Namun ketika akan menyerbu Riyadh (pada akhir penghujung 1800-an), usia dan penyakit telah memaksa Abdul-Rahman untuk mendelegasikan Dinasti Saudi Wahhabi kepada putranya, Abdul-Aziz, yang kemudian menjadi Pemimpin dinasti Saudi-Wahhabi yang baru.

Melalui strategi licik dan Khas Yahudi, kolonial Inggeris di Jazirah Arab pada awal abad 20, yang dengan cepat menghancurkan Kekhalifahan Islam Utsmaniyyah dan sekutunya yaitu klan al-Rasyid secara kesuluruhan, dan dengan pasti Inggris memberi dukungan penuh kepada Imam baru Saudi-Wahhabi Abdul-Aziz.

Mulailah, kebengisan yang sangat jauh dari nilai-nilai Islam yang agung dan Mulia yaitu pembunuhan demi pembunuhan, sebagaimana ditulis oleh Said K. Aburish, dalam bukunya The Rise, Corruption and the Coming Fall of the House of Saud (New York: St. Martin’s Press, 1995), p. 14). Dia menyampaikan catatan : “Dengan dukungan kolonial Inggeris, uang dan senjata, Imam Wahhabi yang baru, pada 1902 akhirnya dapat merebut Riyadh. Salah satu tindakan biadab pertama Imam baru Wahhabi ini setelah berhasil menduduki Riyadh adalah menteror penduduknya dengan memaku kepala al-Rasyid pada pintu gerbang kota. Abdul-Aziz dan para pengikut fanatik Wahhabinya juga membakar hidup-hidup 1.200 orang sampai mati.

< 1 2>

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button