Home / News NTT / Kembalikan Kota Kupang ke Kitahnya, Tantangan Bagi Kita

Kembalikan Kota Kupang ke Kitahnya, Tantangan Bagi Kita

Foto: Koepang.com

Bagikan Halaman ini

Share Button

MORAL-POLITIK.COM: Perkembangan Kota Kupang kian pesat. Pertumbuhan penduduk terus meningkat – baik yang disebabkan oleh kelahiran baru maupun arus masuk pendatang dari kota dan pulau lain.

Perlu sebuah perencanaan tata ruang kota yang baik, terencana, dan terukur. Jika tidak demikian, maka Kota Kupang akan menjadi kota yang tak ubahnya seperti kota-kota besar di Indonesia. Padat, macet, banjir dan sejumlah persoalan sosial lain. Ini akan menjadi ancaman serius dalam membangun peradaban Kota Kupang menjadi kota modern.

Topografi alam Kota Kupang tidak saja unik, juga indah. Kontur tanah yang kuat karena diselubungi karang. Bisa diimani bahwa Tuhan mengaruniakan kita fondasi yang kuat untuk membangun kota ini.

Memiliki sejumlah kali (sungai) – baik kali mati (dialiri air pada musim hujan) maupun kali hidup (dialiri sepanjang musim meskipun debetnya kecil) merupakan potensi yang harus dimaksimalkan. Kali Liliba misalnya sebenarnya merupakan potensi yang terkubur karena belum disentuh sebagian bagian dari perencanaan tata kota. Kenyataan tempat ini hanya menjadi tempat orang untuk menghabisi hidupnya (bunuh diri). Anda coba searching di ba’i Google. Masukan kata kunci Kali Liliba, maka akan menampilkan link yang terkait dengan peristiwa (ancaman) bunuh diri. Tidak satu pun berita positif tentang Kali Liliba.

Kota Kupang memiliki teluk yang teduh. Dalam strategi dunia militer, Kupang menjadi salah satu tempat yang strategi untuk membangun pangkalan militer – laut, darat dan udara. Selain karena berada pada tapal batas samudera yang berbatas dengan benua Australia dan bertetangga dengan Timor Leste, kondisi alamnya memungkinkan untuk tujuan itu.

Teluk teduh dan ditunjang oleh garis pantai yang panjang. Pasir putih dan hitam yang lembut. Gundukan karang yang eksotik. Serta hutan bakau yang asri. Jika ditata dan dikelola dengan baik, maka garis pantai dan Teluk Kupang dapat menjadi berbagai wahana untuk aktivitas yang positif.

Baca Juga :  Aplonia Dethan: Metode pembelajaran Bahasa Inggris adalah 'SWEET'

Sayangnya, keindahan teluk dan garis pantainya dijejali oleh bangunan-bangunan megah seperti hotel, ruko dan restauran. Tanpa kita sadari, bangunan-bangunan tersebut menjadi tembok penjara. Penjara kota. Masyarakat Kota Kupang adalah tahanannya. Akses masyarakat ke laut (public area) terbatas. Tidak bebas seperti dahulu – bahkan tertutup sama sekali.

< 1 2 3>

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button