Home / Sejarah / Mel Adoe dan Andre Koreh, ‘Quo Vadis’?

Mel Adoe dan Andre Koreh, ‘Quo Vadis’?

Jembatan San Fransisco. (Foto: Google.co.id)

Bagikan Halaman ini

Share Button

MORAL-POLITIK.COM: Mungkin Anda kenal Mel Adoe, tapi saya mengenal politisi senior Partai Golkar tersebut jauh lebih baik dari yang kalian kenal.

Mungkin Anda juga kenal Andreas Koreh, tapi saya mengenalnya jauh lebih dalam dari yang kalian kenal.

Maka ketika Andreas Koreh selaku Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) bicara tentang rancangan pembangunan Jembatan Pancasila Palmerah yang bakal menghubungkan Pulau Larantuka – Adonara, di Kabupaten Flores Timur, saya merapat untuk ikut nimbrung dalam kapasitas sebagai penulis lepas—pertemanan semenjak kuliah dan aktivis kepemudaan, terutama Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) membuat kami mudah menyesuaikan diri.

Sedangkan dengan Mel Adoe, semasa pegawai negeri sipil (PNS) dibolehkan ikut kancah politik, terutama di Golkar, saya beberapa kali masuk dalam Tim Kampanye di Kupang dan Rote yang diketuainya. Sehingga manakala Mel Adoe bicara soal Jembatan Pukuafu yang menghubungkan Kupang – Rote Ndao, saya sontak terpukau untuk menggali lebih jauh soal pentingnya membangun Jembatan Pukuafu itu.

Pukuafu
Manakala saya menulis novel Membadai Pukuafu, saya mengalami kesulitan untuk menemukan arti harafiah dari kata Pukuafu dalam Bahasa Rote. Daripada pusing-pusing, saya simpulkan sendiri berdasarkan pengalaman menyeberang Pukuafu dengan menggunakan perahu motor, Kapal Motor Tenggiri (Telah tenggelam tahun 1966), Ferry, dan Ferry Cepat.

rondaOrang Rote Ndao bermain Sasando. (Foto: s-media-cache-ak0.pinimg.com)

Pukuafu saya artikan dalam dua artian. Pertama, dalam arti makna adalah selat yang arusnya bergelombang deras yang bisa mengancam keselamatan pelayaran dan nyawa manusia; kedua dalam arti sastra yaitu “gelora cinta yang membara-bara”.

Pada musim gelombang di bulan November hingga Maret, Pukuafu tak bisa diajak kompromi. Jika bandel, nyawa melayang dan itu tanggungjawab sendiri.

Baca Juga :  PNS DKI digaji perbulan Rp13juta hingga Rp70juta

< 1 2 3 4>

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button