Home / Populer / Meneropong Peluang Kemenangan Koalisi Golkar dan PDI-P di Kota Kupang

Meneropong Peluang Kemenangan Koalisi Golkar dan PDI-P di Kota Kupang

Mikhael Rajamuda Bataona. (Foto: lh3.googleusercontent.com)

Bagikan Halaman ini

Share Button

MORAL-POLITIK.COM: Jelang pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Kupang (Pilwalkot) Kupang yang akan dimulai pada tahun 2017 mendatang, santer terdengar bahwa dua partai besar yaitu PDI-P dan Golkar akan berkoalisi untuk mengusung calon incumbent, Jonas Salean, selaku Ketua DPD II Golkar Kota Kupang sebagai bakal calon Walikota Kupang, bersama beberapa nama calon wakilnya yang akan dosodorkan oleh PDI-P, seperti Kamilus G. Tokan, Jhon G. Seran, Nikolaus Fransiskus, dan Kristo Blasin.

Seberapa besar peluang dari koalisi besar ini untuk memenangkan Pilwalkot masih menjadi tanda tanya besar?

Salah satu pengamat politik yang sudah membuka suaranya soal keuntungan dari koalisi yang hampir pasti terbentuk antara Partai Golkar dan PDI-P adalah Mikhael Rajamuda Bataona. Pengamat politik Unwira Kupang ini yang diwawancarai via telepon genggam, mengatakan, jika benar Golkar dan PDI-P akan berkoalisi, maka secara matematis kekuatan politik Jonas akan berlipat ganda. Karena, mesin politik PDI-P di kota cukup kuat.

Meski demikian, Jonas tentu berhitung soal siapa dan kelompok mana di PDI-P yang harus dijadikan sebagai wakil. Sebab, dalam amatannya, di PDI-P sendiri sudah terjadi polarisasi kekuatan politik. Ada yang berafiliasi ke Jhon (Epy) Seran, ada yang ke Kamilus Selly Tokan, dan ada juga yang ke Niko Frans.

Nah, tambahnya, dalam hal ini tentu perlu dihitung juga kekuatan lain, seperti kekuatan orang DPP PDI-P. Karena, afiliasi kekuatan PDI-P di daerah dengan jaringan Jakarta itu masing-masing punya jalur sendiri-sendiri. Kuncinya sekarang ada di DPD PDI-P NTT. Siapa yang akan disodorkan ke Jakarta untuk diputuskan di sana?

“Saya pikir orang awam juga paham bahwa kuncinya ada pada Pak Frans Lebu Raya sebagai Ketua DPD PDI-P NTT dan sekaligus Gubernur NTT. Pak Frans punya power untuk membantu memenangkan jago yang disodorkan PDI-P. Sekarang tinggal dihitung, siapa yang akan disodorkan. Dalam amatan beberapa pihak, jika Frans menyodorkan Sely Tokan, maka akan ada resistensi di internal PDI-P Kota. Lalu apabila Jhon Seran (Epy) yang dimajukan, itu juga akan mendapat resistensi yang sama. Demikian juga jika Niko yang dimajukan. Untuk itu, sebaiknya dilakukan konvensi di internal PDI-P untuk memutuskan siapa yang disodorkan untuk menjadi wakilnya Jonas,” ujar Bataona.

Baca Juga :  “Bagaimana Mungkin Tarif Air Baku di Kota Kupang Ditetapkan Bupati Kupang?”

Jika tidak, tambahnya, PDI-P bisa mengajukan calon sendiri dan bertarung. Karena Jonas butuh mesin PDI-P dan mesin partai politik lainnya biar ada sebuah jejaring power dan mesin politik yang besar. Dalam hal ini, kelihatan Jonas lebih banyak menghitung kekuatan politik Gubernur Frans. Karena Frans memiliki jaringan politik di kota terutama mesin politik yang digerakkan secara senyap di luar mesin PDI-P. Mesin senyap ini yang sangat dihitung oleh Jonas.

< 1 2>

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button