Oleh: Nikolaus Uskono*

MORAL-POLITIK.COM: Perjalanan hidup manusia di dunia ini akan berakhir. Sebelum manusia mengakhiri hidupnya di dunia ini, ia ingin menjalani hidup di dunia ini sejauh mungkin, untuk menemukan makna, arti dan manfaat sebesar-besarnya bagi dirinya, sesama dan di alam baka nanti atau di hadapan Tuhan Sang pemberi kehidupan itu sendiri. Ada pepatah tua mengatakan” jauh berjalan banyak melihat, lama hidup banyak pengalaman”. Dalam hal perjalanan ini, manusia disebut Homo Viator,artinya manusia pejalan, manusia petualang, manusia pengembara, manusia penjelajah. Dalam konteks iman disebut manusia peziarah. Secara lahir/fisik/ badaniah/jasmani/ perjalanan hidup manusia akan berakhir dengan kematian yakni kembali menjadi tanah dan air, menyuburkan bumi ini. Namun secara bathin/jiwa/roh manusia yang tak terbatas atau tak dapat mati ini, akan kembali ke sumber dan asal kehidupan roh itu sendiri yaitu Allah.

Secara kodrati manusia terdiri dari tubuh/fisik dan jiwa/roh ini, serta memiliki akal budi dan kehendak bebas,karena itu manusia berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhi dua kebutuhan dasar hidup itu. Perjalanan atau ziarah hidup ini, diusahakan agar sebaik-baik mungkin, bisa terpenuhi secara seimbang. Demi pemenuhan kebutuhan fisik, maka hal tersebut tidak terlepas dari sandang (pakaian), pangan (makanan) dan papan (rumah), serta kerja fisik dan olah raga/fisik. Tetapi untuk pemenuhan kebutuhan akal dan pikiran terutama dalam penyegaran pikiran maka orang melakukan berbagai macam kegiatan seperti belajar membaca, menulis, berbicara/berpendapat, rekreasi, piknik atau wisata/tour ke tempat-tempat wisata alam untuk mendapatkan kembali semangat dan inspirasi baru dalam menyemangati diri menghadapi rutinitas tugasnya. Sedangkan dalam hal penyegaran jiwa, hati rohani yang terkait dengan iman dan kepercayaannya, manusia dapat melakukan doa dan ziarah/wisata rohani ke tempat-tempat atau lokasi tertentu yang bernilai rohani, religius sesuai dengan iman dan kepercayaan yang dianutnya. Semua ini dilakukan untuk keutuhan pemenuhan kebutuhan manusia yang memiliki jiwa dan raga.

Persoalan yang dikemukakan di sini adalah apakah hal pemenuhan kerinduan hati atau rohani, terutama dalam kaitan dengan urusan piknik, wisata atau ziarah, adalah praktek yang terkait dengan urusan pemenuhan kebutuhan menengah manusia?. Apakah upaya pemenuhan kebutuhan penguatan atau penyegaran mental, jiwa dan roh-ani(hati) manusia, adalah urusan pemenuhan kebutuhan menengah, setelah urusan pemenuhan kebutuhan dasar fisik seperti sandang (pakaian), pangan (makanan) dan papan (rumah) secara normal tidak ada persoalan?. Fakta menunjukkan bahwa rekreasi dan sejenisnya adalah kebutuhan manusia, tingkat menengah yang ingin mendapatkan hiburan/kesenangan atau pemuasan batin. Dalam hubungan dengan hiburan, terutama yang berkaitan dengan pilihan tempat atau lokasi tertentu yang mau dikunjungi, semuanya itu membutuhkan suatu alokasi biaya tertentu, dan untuk kebanyakan manusia, tentu masih belum memberi perhatian pada tingkat kebutuhan seperti itu, karena masih berurusan, berutak-atik dengan masalah pemenuhan kebutuhan dasar.

Tempat/Tanah Suci
Bagaimana dengan tempat atau tanah suci yang ingin dicapai, tetapi jauh dari jangkauan capaian perjalanan manusia, karena ketidak tersediaan biaya?.Karena persoalan upaya pemenuhan kebutuhan dasarnya masih terbengkalai. Pertanyaan lanjutan yang tak kalah menarik sekaligus menantang bagi kaum agamawan dalam pengajarannya, adalah apakah ziarah itu suatu kewajiban dalam beragama atau suatu kesempatan dan bagian dari ibadah. Intinya ada pada yang mana? Kewajiban, kesempatan atau ibadah? Kalau ziarah itu intinya pada kewajiban maka kebanyakan umat beragama akan tidak bisa penuhi kewajiban agamanya itu. Kalau ziarah itu kesempatan maka bersyukurlah mereka yang telah berkesempatan bisa mengalaminya. Namun namun kalau ziarah itu ibadah, maka di manapun tempat bila manusia gunakan untuk sungguh beribadah sebagai sujud syukur dan sembah dalam mengungkapkan pengakuan iman akan Tuhan Allah adalah pencipta langit dan bumi, laut segala isinya, dan ditempat tersebut Tuhan berkenan menampakkan rahasia-rahasia keagunganNYA bagi manusia, maka hal tersebut bukanlah suatu persoalan. Sebab di setiap tempat dan waktu yang tersedia di muka bumi, adalah Ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa, dan manusia tinggal menyiapkan hati untuk boleh beribadah. Dalam pernyataan iman inilah, maka kita semua boleh berseru,“Ya..Tuhan bila di tempat itu, Tuhan berkenan mengerjakan dan menampakkan mujizat-mujizat yang kudus dan ajaib bagi orang-orang di tempat itu, maka dengan rendah hati saya memohon, sudi kiranya Tuhan berkenan mengerjakan hal-hal yang ajaib bagi diriku, yang najis, kotor, hina dan tak pantas ini, sebab hanya padaMulah Tuhan, aku percaya dan berharap akan kuasaMu yang menyelamatkan.”

Dengan ini penulis ingin mengajak pembaca untuk turut bersyukur dan bermadah bahwa ziarah itu adalah ibadah, maka ibadah yang dijalankan oleh saudara seiman di belahan bumi ini di manapun, adalah juga seperti bagian dari ibadah kita di tempat ini. Maka janganlah sekali-kali kuatir atau kecil hati, kalau tidak berkesempatan melakukan ziarah ke tempat/tanah suci. Sebab ziarah ke tempat/tanah suci, bukanlah berarti telah memiliki tiket untuk dapat masuk surga nanti. Tetapi bagi mereka yang telah berkesempatan melakukan ziarah ke tempat/tanah suci, patutlah bersyukur dan bersaksilah dalam hidup, bahwa sudah melihat tempat/tanah suci dan bahwa Tuhan kita adalah Tuhan yang hidup.Sebab bagi yang tidak sempat melihat, ada tertulis bahwa “hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat”(2 Kor.5:7). Tuhan sendiri mengucapkan berbahagia bagi mereka yang tidak melihat, tetapi percaya (Cfr.Yoh.20:29b).

Dalam kaitan dengan iman penulis sebagai seorang penganut Kristen Katolik Roma, penulis tertarik dengan apa yang dikemukakan oleh almarhum Romo Y.B. Mangunwijaya, dalam bukunya Sastra dan Religiositas, bahwa kalau ziarah itu, suatu kewajiban, maka orang akan berjuang mati-matian menjual segala hartanya untuk dapat sampai ke tempat /tanah suci, meskipun dalam kenyataan bahwa sangat kesulitan dalam upaya pemenuhan kebutuhan dasar hidupnya. Dan apabila hal yang lain seperti puasa dan derma adalah juga kewajiban, maka orang akan berusaha untuk memenuhi syarat melakukan derma dan puasa itu sebagai syarat beragama, tetapi manusia akan memenuhi kewajiban beragamanya hanya secara formalitas saja. Romo menegaskan bahwa dalam terang iman Katolik, diyakini bahwa kehadiran Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Penyelamat melalui penderitaan dan curahan darah-NYA yang tersuci dan termulia serta kematian-NYA di atas Salib, adalah bukti kuasa dan Kasih Allah atas ciptaan-NYA, karena itu seluruh muka bumi ini telah disucikan oleh tetesan darah suci Yesus, dan kebangkitan-NYA yang jaya dari alam maut, sekaligus telah mengalahkan kuasa dosa dan maut, maka di tempat manapun dan kapanpun waktu, semuanya telah dikuduskan dan disucikan, sehingga manusia dipersilahkan untuk melakukan ibadah dan puasa, tanpa harus berpikir bahwa harus dan hanya melakukan ibadah di tempat atau tanah suci.

Bagi penulis artinya bahwa manusialah yang harus sungguh-sungguh menyadari bahwa semua tempat dan semua waku, telah disucikan. Hanya sejauhmana penghayatan dan pengalaman imannya itu dalam hidup ini. Apakah sungguh memanfaatkan waktu dan tempat tersebut sebagai yang suci dan kudus? Ataukah kehadiran kita di tempat tersebut hanya ikut mencemari tempat dan waktu yang telah diluangkan dengan dosa dan keangkuhan, yang kita perbuat? Bersyukurlah bahwa melalui pintu tobat dan penyesalan, manusia diperkenankan untuk boleh kembali dalam dekapan dan pelukan kasih Tuhan yang diimaninya sebagai Bapa dan Penyelamat,sebagaimana tertulis, “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan ( 1Yoh.1:9).

Homosentris, Teosentris dan Kristosentris
Kalau di atas dikatakan bahwa semuanya dikembalikan kepada manusia, agar dapat menggunakan kesadarannya, sejauhmana menghayati dan mengamalkan imannya dalam hidup ini, maka sebetulnya itulah yang dimaksudkan dengan semua kembali berpusat pada manusia atau Homosentris/antroposentris. Tetapi dalam kaitan dengan kesadaran, yakni suatu pengertian yang berasal dari kata bahasa Latin Consciensitas, yang terdiri dari kata, con – cum yang artinya bersama dengan dan kata benda Scientia yang artinya ilmu atau pengetahuan, kata kerjanya, Scire, yang artinya membaca, maka conscientitas artinya tahu membaca di antara atau bersama dengan. Artinya manusia tidak bisa membaca dirinya melulu sebagai pusat, tanpa membaca apa yang ada di antaranya atau apa yang ada bersama dengannya. Hal ini adalah penting untuk menyadarkan manusia agar tidak boleh menyombongkan diri sendiri.Sebab manusia selain sebagai makluk individu, adalah pribadi yang personalitasnya tidak bisa diabaikan, tetapi sekaligus juga sebagai makluk sosial yang adanya di dalam dunia ini adalah dalam dengan ikatan keluarga, masyarakat dan juga berada di alam semesta sebagai Ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Dengan ini maka sampailah kita kepada suatu kesadaran bahwa segala-galanya yang ada di bawah kolong langit ini adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Kesadaran itu menghantarkan manusia untuk menyandarkan segala upaya dan perhatian, hanya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Itulah bagian dari Teosentris. Karena manusia adalah Imago Dei, yakni citra atau rupa Allah maka Allah sangat mengasihi ciptaan-NYA terutama manusia sebagai ciptaan-NYA yang termulia, sehingga melalui ramalan para nabi sejak kisah ciptaan dunia ini, sebagaimana disebutkan dalam Alkitab, bahwa sejak manusia jatuh dalam dosa, telah dijanjikan bahwa akan datang Penebus yakni Kristus. Sejak itu harapan akan janji Tuhan bahwa akan datang penebus, penyelamat, mesias, bagi kaum beriman monoteisme. Ketika Yesus Kristus menjadi manusia, yakni ketika Allah mengambil rupa manusia dalam diri Yesus adalah Anak/Putera Allah, disitulah Allah menunjukkan diriNYa bagaimana menjadi manusia yang benar di hadapan Tuhan, seperti yang telah dicontohkan dan ditunjukkan oleh Yesus Kristus, dan diminta untuk diteladani. Kristus menjadi pusat dan perhatian seluruh kehidupan umat manusia. Itulah yang disebut Kristosentris.

Ziarah ke Kristosentris
Kalau ziarah hidup manusia pada akhirnya adalah berpusat pada Kristus, yang adalah sungguh Allah yang telah mengambil rupa sebagai manusia, maka seluruh ziarah perjalanan manusia adalah kembali berpusat pusat Kristus, sebagai sumber dan berpangkal pokok keselamatan.Demikianlah paham Kristosentris. Sebab ada tertulis, “Supaya dalam nama Yesus, bertekuk lututlah segala yang ada di langit, yang ada di atas di bawah bumi, dan bagi kemuliaan Allah Bapa, semua lidah mengakui,“Yesus Kristus adalah Tuhan” (Fil.2: 10). Yesus Kristus menyediakan diriNYA sendiri sebagai makanan dan minuman, supaya siapa yang menyambutnya mendapat kehidupan kekal. Demikian ada tertulis,“Akulah roti hidup yang telah turun dari Surga”(Yoh: 6: 51a). “Barang siapa makan dagingKu dan minum darahKu, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman”(Yoh.6: 54). Bahwa dalam rupa manusia,Yesus menyinggahi tempat/tanah tertentu, dan oleh karena itu menarik kita pengikutnya boleh mengunjunginya atau berziarah ke sana, untuk melihat dan mengetahui bagaimana semasa hidup Yesus, yang diterima dalam budaya dan situasi masyarakat pada waktu itu di tempat itu, sebagaimana dilukiskan dalam Kitab Suci, lalu bagaimana kita merenungkan dan menghayatinya untuk waktu dan tempat situasi kita saat ini di sini. Karena disebutkan dalam Alkitab Yoh.1:1-5,”Yesus Kristus adalah Sabda Allah”, dalam ayat (1) “Pada mulanya adalah Firman dan Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah”, dan juga tertulis dalam (Ibr.13:8),“Yesus Kristus adalah tetap sama baik kemarin, maupun hari ini dan selama-lamanya” maka tidak ada alasan lain untuk membuktikan bahwa ziarah manusia yang dijalankan, pada akhirnya hanyalah terarah kepada Kristus. Ada tertulis, “Ego sum via, veritas et vita” yang artinya Akulah jalan, kebenaran dan hidup (Yoh.14:6). Dan supaya kita mengerti apa itu kebenaran, seperti yang ditanyakan oleh Pilatus, maka baiklah kita membuka hati sebab ada tertulis“Kiranya memperlengkapi kamu dengan segala yang baik untuk melakukan kehendakNYA, dan mengerjakan di dalam kita apa yang berkenan kepadaNYA, oleh Yesus Kristus. Bagi Dia kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin (Ibr.13:21).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

16 − 13 =