Home / Sejarah / Ahok atau Bukan Ahok, Intuisi Megawati Kembali Diuji

Ahok atau Bukan Ahok, Intuisi Megawati Kembali Diuji

LUCKY PRANSISKA. Presiden Indonesia kelima, Megawati Soekarno Putri berbincang dengan Gubernur DKI, Basuki Tjahja Purnama dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat usai acara pengambilan sumpah jabatan Wakil Gubernur DKI Jakarta, di Balai Kota Jakarta, Rabu (17/12/2014).

Bagikan Halaman ini

Share Button
Oleh: Heru Margianto

MORAL-POLITIK.COM: Megawati Soekarnoputri bukanlah sosok yang artikulatif. Kalimat-kalimatnya yang kerap kita dengar di forum-forum terbuka bukanlah kata-kata yang terstruktur seperti Susilo Bambang Yudhoyono. Kadang kalimat-kalimat Mega malah terasa seperti kata yang terpenggal-penggal.

Ia memang bukan politisi yang pandai berkata-kata. Namun, sejumlah dinamika politik di negeri ini sesungguhnya amat dipengaruhi oleh pilihan-pilihan politiknya. Sejumlah orang yang mengenalnya dari dekat mengatakan, Megawati memiliki intuisi politik yang tajam.

Ketajaman intuisinya barangkali bisa jadi karena warisan genetis dari Soekarno, ayahnya. Namun, tak bisa dipungkiri, kerasnya perjalanan politik Mega menguatkan ketajaman intuitifnya sebagai seorang politisi. Sebagai politisi, ia ditempa oleh kerasnya represi rezim orde baru. Mega lah yang membangun PDI-P dari nol dengan segala jatuh bangunnya.

Almarhum Frans Seda, politisi senior PDI-P, dalam sebuah kesempatan pernah berkata, seringkali logika dan analisis fakta-fakta rasional harus bertekuk di bawah intuisi politik Mega.

“Dia (Mega) punya intuisi tajam. Sering kita berpikir, secara logika, menganalisa fakta-fakta, menyodorkan bukti-bukti, tapi tetap saja belum pas. Di saat itulah Mega bertindak berdasarkan intuisinya, yang oleh orang-orang lain tidak terpikirkan sebelumnya,” kata Frans.

Ganjar Pranowo, politisi PDI-P yang kini menjadi Gubernur Jawa Tengah, pun mengakui bahwa perjalanan karir politiknya hingga menduduki kursi gubernur adalah buah dari intuisi Mega yang memintanya maju di last minute.

Kala itu, pasangan Ganjar Pranowo dan Heru Sudjatmoko mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum Jawa Tengah selang empat jam sebelum pendaftaran tutup pada pukul 24.00.

Pilihan Mega atas Ganjar bukan pilihan yang populer. Pasalnya, menurut survei Lingkaran Survei Kebijakan Publik (LKSP), anak perusahaan Lingkaran Survei Indonesia yang kesohor itu, elektabilitas Ganjar hanya 8,4 persen, jauh di bawah calon incumbent, Bibit Waluyo, yang mencapai 39 persen.

Baca Juga :  Umat membangun Gereja Katedral Kristus Raja Kupang (1)

Nyatanya Megawati tidak salah. Ganjar menang dengan perolehan suara 48,82 persen mengungguli Bibit di posisi kedua dengan perolehan suara 30,2 persen. Kemenangan yang mengejutkan. Ganjar pun memimpin Jawa Tengah periode 2013-2018.

Jokowi-Basuki

Sebelumnya, pada 2012, intuisi Megawati juga menuntunnya pada sosok Joko Widodo atau Jokowi, Wali Kota Solo. Megawati meminta Jokowi hijrah ke Jakarta untuk maju dalam Pilkada berhadapan dengan calon incumbent Fauzi Bowo atu Foke yang menggandeng Nachrowi Ramli.

Bukan pilihan yang mudah mengingat tingginya popularitas dan elektabilitas Foke. Survei yang dilakukan Cyrusnetwork pada Desember 2011, elektabilitas Jokowi hanya 6 persen, sementara Foke berada di urutan teratas dengan 25,3 persen. Sementara, survei PDI-P dari Indobarometer awal Februari 2012 mendapatkan, popularitas Jokowi berada di urutan ketiga setelah Foke dan Tantowi Yahya.

< 1 2 3 4>

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button