MORAL-POLITIK.COM: Calon tunggal Kapolri Komisaris Jenderal Tito Karnavian dikenal sebagai polisi ahli terorisme. Dia pernah menjabat sebagai Kepala Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror, satuan khusus milik Polri yang berfungsi menindak para teroris.

Setelah itu, Tito jadi salah satu Deputi Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Dan kini, setelah dua kali menjabat Kapolda, pria kelahiran Palembang, Sumatera Selatan itu duduk sebagai Kepala BNPT.

Tito kerap terlibat operasi penindakan terorisme. Dia mengakui hal tersebut berisiko. Tak hanya bagi dirinya, tapi juga keluarga.

Bahkan, menurut istri Tito, Tri Suswati, keluarganya acap mendapat ‘Teror’. Mulai pesan singkat (SMS) yang bernada mengancam, telepon gelap sampai dikerjai.

“Pernah suatu hari habis sekolah anak, saya ditelepon sopir. Ban mobil lepas dua. Kok sampai begitu, kok bisa terjadi demikian,” ujar Tri saat ditemui di rumah dinas Tito di Kompleks Polri Ragunan, Jakarta, Rabu (22/6/2016).

Namun Tri enggan berburuk sangka dan menuding pihak tertentu. Ketimbang berpikir terlalu jauh, Tri memilih tak memedulikan telepon gelap dan SMS teror.

Sementara itu, Tito mengatakan keisengan itu cukup mengusik dirinya dan keluarga. Hal itu menjadi salah satu pertimbangan Tito membawa keluarganya ke Singapura, pada 2011.

Apalagi, ketika itu, Tito jadi salah seorang polisi yang ditarget oleh teroris ‘bom buku’.

Saat menempuh studi S-3 di Singapura, Tito memboyong istri dan anaknya. Ketika Lulus dan bergelar Ph.D, Tito dan istri kembali ke Tanah Air, sementara tiga anaknya tetap di negeri jiran tersebut. Yang sulung kini kuliah, dua lagi duduk di bangku SMA.

“Saya bisa mengelak kesana kemari, tapi istri dan anak saya bagaimana. Maka anak concern di Singapura saja,” ujar Tito.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

+ 59 = 65