MORAL-POLITIK.COM: Warga Desa Raknamo, Kecamatan Amabi Feto, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) merasa sangat terganggu dengan kebijakan pemerintah Provinsi NTT untuk memintahkan 24 kuburan yang sedang berada di wilayah proyek pembangunan Bendungan Raknamo.

Hal ini disampaikan salah satu toko adat Desa Raknamo, Soleman Nofe. Ia menyatakan, terkait dengan perpindahan kuburan disaat Persiden Republik Indonesia Joko Widodo berkunjung ke Bendungan Raknamo, dirinya sudah pindahkan satu kuburan ke rumahnya, karena warga sudah siapkan lahan untuk pemerintah membuka lahan membangun irigasi.

“Dengan pembangunan Bendungan Raknamo dengan maksud untuk membantu warga sekitar, namun pertanyaannya kepada Kepala Dinas Pekerjan Umum (PU) NTT, Andre W. Koreh, bagaimana dengan kuburan yang 24 biji itu mau diapakan? Padahal sebelumnya di beberapa titik, menurut tim survei tidak ada dampaknya, tetapi menurut saya ada dampaknya dengan 24 kuburan itu, dan sangat mengganggu warga Desa Raknamo,” kata Nofe ketika dilakukan acara dialog siaran langsung di Forum Diskusi Desa yang diselenggarakan Radio Republik Indonesia (RRI) Kupang bersama Dinas PU Provinsi NTT, Kamis (21/7/2016) kemarin petang.

Ketika ditanya RRI Kupang, apakah warga siap dipindahkan kuburannya itu, Nofe menjawab, kami selalu siap untuk proyek pembangunan irigasi, karena ini kepentingan masyarakat Desa Raknamo dan beberapa Desa sekitarnya yang menikmati air bersih di Bendungan Irigasi Raknamo.

????????????????????????????????????Kadis PU NTT Andre W. Koreh (tujuh dari kiri) berdialog bersama warga Desa Raknamo dalam acara Forum Diskusi Desa yang diselenggarakan RRI Kupang bersama Dinas PU NTT, Kamis (21/7/2016). Foto: Semar Dju

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

6 + 2 =