Home / Sastra / Ketika Gubernur NTT Menutup Pertemuan Pastoral X Regio Nusa Tenggara…

Ketika Gubernur NTT Menutup Pertemuan Pastoral X Regio Nusa Tenggara…

Gubernur NTT Frans Lebu Raya resmi menutup Pertemuan Pastoral X Regio Nusa Tenggara di Bajawa, Flores, NTT. (Romo Kris Fallo)

Bagikan Halaman ini

Share Button

MORAL-POLITIK.COM: Bertempat di Paroki Mater Boni Consili Bajawa, Kamis (21/7/2016), dilangsungkan perayaan ekaristi penutupan Pertemuan Pastoral (Perpas) X, Regio Nusa Tenggara. Perayaan ekaristi dipimpin oleh Mgr. Petrus Turang, Uskup Agung Kupang, didampingi tujuh uskup se-Regio Nusa Tenggara.

Pertemuan Perpas diikuti oleh para bapak uskup bersama utusan dari delapan keuskupan yakni, Keuskupan Agung Ende sebagai tuan rumah, Keukupan Agung Kupang, Keuskupan Ruteng, Keuskupan Denpasar, Keuskupan Weetabula, Keuskupan Larantuka, dan Keuskupan Atambua.

Acara penutupan Perpas diawali dengan penjemputan para Uskup, Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Frans Lebu Raya, serta para peserta Perpas di lapangan umum depan Gereja Mater Boni Consili Bajawa. Rombongan disambut dengan tarian Ja’i, khas Bajawa.

Gubernur Frans Lebu Raya dalam sambutannya saat menutup dengan resmi Perpas X mengatakan, “Saya bersyukur bahwa Perpas kali ini mengambil tema keluarga. Kita berharap keluarga-keluarga katolik termotivasi mau membina anak-anak. Tahun ini juga akan diadakan Hari Keluarga Nasional, bertempat di Kupang. Malam hari ini saya hadir di sini untuk menegaskan bahwa pemerintah dan Gereja adalah satu, karena melayani masyarakat dan umat yang sama.”

Acara penutupan diakhiri dengan resepsi dan ramah tamah bersama, disertai juga ucapan terima kasih dari tuan rumah Perpas Mgr. Vincentius Sensi Potokota, dan juga wakil Bupati Bajawa yang juga sekaligus sebagai ketua panitia.

Setelah perayaan ekarisiti, dibacakan juga hasil kesepakatan Perpas yang ditandatangani oleh kedelapan Uskup se-Regio Nusa Tenggara.

Ada pun kesepakan-kesepakatan itu yakni:

Untuk Keluarga-keluarga Katolik:

Membangun dan meningkatkan kegiatan doa bersama dalam keluarga serta menyiapkan sarana dan tempat doa yang mendukung.
Membiarkan Sabda Allah meresapi dan menuntun kehidupan sehari-hari melalui kebiasaan membaca, merenungkan, dan mensharingkan Kitab Suci.

Baca Juga :  Puisi: Tungguku sudah lansia

< 1 2 3 4>

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button