Home / Gaya Hidup / “Kritik Jonru Membuktikan Jokowi adalah Presiden Kesayangannya?”

“Kritik Jonru Membuktikan Jokowi adalah Presiden Kesayangannya?”

Bagikan Halaman ini

Share Button

MORAL-POLITIK.COM: “Lagi-lagi terbukti, Shalat di Padang cuma pencitraan. Bahkan shaf sengaja dimundurkan agar wartawan mudah memotret adegan shalat-nya. Dan ups… Ternyata dia shalat masih pakai kaos kaki. Ya sudah, positif thinking saja. Semoga sebelumnya sudah wudhu, dan kaos kaki dipakai lagi (walau ini bukan kebiasaan yang lazim),” tulis Jonru di laman Facebook-nya.

Tak lupa ia menyertakan dua buah link dari mana foto-foto tersebut berasal agar tidak dibilang Hoax. Melihat aktivitas Jonru yang aktif membicarakan Presiden Jokowi di laman Facebook-nya, tentu memunculkan pertanyaan mengapa Jonru tidak henti-hentinya membahas Jokowi? Bahkan setiap masalah dan kisruh yang terjadi di republik ini selalu dikaitkan dengan Sang Presiden. Terkait pertanyaan ini, ada satu tulisan menarik berjudul Jokowi Adalah Presiden Kesayangan Jonru karya Iwan Iwe yang telah dimuat di situs Qureta.com.

Jokowi Adalah Presiden Kesayangan Jonru

Dalam sebuah adegan di film The Dark Knight, Batman bertanya kepada Joker mengapa dia tidak segera membunuhnya. Joker dengan terkekeh menjawab:

“Tidak. Aku tidak akan membunuhmu. Apa yang akan aku lakukan tanpamu? Kembali membunuh penjahat jalanan? Tidak, tidak, tidak! Tidak. Kehadiranmu melengkapi diriku.”

Ingatan saya langsung tertuju kepada dialog di atas setelah saya mengamati segala omongan Jonru tentang Jokowi. Jonru dan Jokowi adalah dua entitas yang tidak terpisahkan. Kehadiran Jokowi bagi Jonru adalah penting. Tanpa Jokowi, Jonru hanyalah penulis yang tak dikenal siapapun. Jokowi membuat Jonru bagai nabi bagi para pengikutnya yang jumlahnya mencapai jutaan orang.

Jon Riah Ukur, nama asli Jonru atau Jonru Ginting mulai dikenal orang saat Pilpres 2014 di mana dia mendukung Capres Prabowo Subiakto. Jokowi, Capres lawan Prabowo, menjadi sasaran empuk kritikan, eh omongan Jonru. Saya tidak menyebut Jonru melakukan kritikan karena syarat omongan disebut kritikan sangat banyak, di antaranya: Kritik harus disampaikan dengan alasan yang logis, disertai solusi permasalahan, menggunakan bahasa yang santun, serta tidak menggunakan kalimat-kalimat yang menyinggung perasaan orang lain.

Baca Juga :  Kini, Ayah Harus Bisa Jadi Sahabat Buah Hatinya

Coba kita tengok Facebook Page (FP) Jonru yang jumlah like-nya hampir mencapai satu juta. Mayoritas status yang ditulis Jonru selalu membicarakan sosok Jokowi. Sayangnya, bukan kebijakan Jokowi di pemerintahan yang dibicarakan namun lebih ke pribadi Jokowi. Jonru tidak memberi solusi atas permasalahan.

Dia sering menggunakan kalimat-kalimat yang menyinggung Jokowi. Misalnya, dia meragukan ibu kandung Jokowi yang menurutnya tidak jelas. Karena ketidakjelasan itulah, dia menyimpulkan semua yang dilakukan Jokowi di pemerintahannya tidak jelas. Sebuah pendapat yang ngawur dengan kesimpulan yang tidak logis.

Bagaimana bisa asal-usul seseorang dipakai untuk menilai sebuah kebijakan yang dilakukan orang lain? Jika memakai logika Jonru, maka orang mungkin akan menilai Jonru adalah orang yang tidak jelas juga. Karena toh semua orang tidak tahu asal-usul Jonru. Dia tidak pernah mengungkapkan siapa ayah dan ibu kandungnya. Maka menilai seseorang dari asal-usulnya adalah pendapat ngawur dan tendensius yang didasari dengan sikap kebencian kepada orang tersebut.

Saya ingat kutipan dari Eleanor Roosevelt, Ibu Negara AS, “Orang yang berpikir besar membicarakan ide dan gagasan, orang yang berpikir sempit selalu membicarakan orang lain.” Kutipan ini cocok untuk Jonru karena dia hobi membicarakan Jokowi tanpa pernah membicarakan apa ide dan gagasannya untuk memajukan bangsa ini. Jokowi bagi Jonru adalah sosok yang selalu salah. Melakukan ibadah salah, tidak melakukan ibadah tambah salah.

< 1 2>

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button