Home / Sejarah / Kudeta di Turki, Jokowi, dan PKI

Kudeta di Turki, Jokowi, dan PKI

Presiden Turki Receb Tayyip Erdogan, (Foto : internet)

Bagikan Halaman ini

Share Button

MORAL-POLITIK.COM: Kudeta gagal kalangan militer sekuler terhadap Presiden Turki, Receb Tayyip Erdogan, Sabtu, 16 Juli 2016, secara tidak langsung mengingatkan Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK), akan potensi serupa di dalam negeri.

Presiden Turki Receb Tayyip Erdogan, ingin negaranya tumbuh jadi sebuah kekuatan besar, berdasarkan alam dan budaya internal dengan penduduk mayoritas Islam. Receb menginginkan Turki tumbuh menjadi negara besar bernuansan islami.

Sedangkan kalangan militer di Turki, sudah merasa nyaman hidup dalam kondisi sekuler, sesuai keinginan Amerika Serikat dan sekutunya yang berideologi liberalis kapitalis.

Di Indonesia, ideologi yang dianut Presiden Jokowi dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) beraliran sosialis, memang berbenturan dengan kiblat militer di Indonesia, terutama Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) yang terlalu berorientasi liberalis kapitalis dimotori Amerika Serikat.

Apabila kepentingan politik pragmatis militer sudah tidak lagi diakomodir, dan pemerintahan Jokowi dan JK tidak cerdas di dalam menunjuk personil petinggi militer di sejumlah jabatan strategis, sewaktu-waktu kudeta bisa terjadi di Indonesia.

Isu kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI) gaya baru mantan Wakil Presiden Jenderal (Purn) Try Sutrisno, mantan Kepala Staf TNI AD Jenderal (Purn) Tyasno Sudarno, mantan Wakil Kepala Staf TNI AD Letjen (Purn) Kiki Syahnakrie, Menteri Pertahanan Jenderal (Purn) Ryamizard Ryacudu dan mantan Kepala Staf Kostrad Mayjen (Purn) Kivlan Zen, dapat dijadikan contoh.

Bahkan, Kevlan Zen, menuding, salah satu anak mantan pentolan Partai Komunis Indonesia (PKI) siap menggerakkan massa untuk menyusun kekuatan melawan pemerintahan yang sah.

Provokasi Kivlan Zen, memang bisa menyulut amarah masyarakat kelas menengah ke bawah. Tapi bagi kalangan yang mengerti sejarah pemberontakan dan kudeta di Indonesia, provokasi Kivlan Zen, hanya jadi bahan tertawaan banyak orang. Alasannya sederhana saja. Secara global, ideologi komunis sudah ditinggalkan pengikutnya hampir di semua negara, karena tidak menarik lagi, lantaran gagal menciptakan kesejahteraan masyarakat.

Baca Juga :  Kapolda Iriawan bongkar rahasia aksi aktivis makar

< 1 2 3>

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button