Home / Populer / Mengapa Terjadi Migrasi Ribuan Triliun Dana WNI ke Luar Negeri?

Mengapa Terjadi Migrasi Ribuan Triliun Dana WNI ke Luar Negeri?

KOMPAS.com/NABILLA TASHANDRA -- Peneliti senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Enny Sri Hartati seusai acara diskusi di Jakarta, Sabtu (30/4/2016)

Bagikan Halaman ini

Share Button

MORAL-POLITIK.COM: Sudah bukan rahasia umum bila para orang kaya di Indonesia lebih gemar menyimpan dananya di luar negeri.

Diperkirakan totalnya lebih dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia yang mencapai Rp 11.400 triliun.

Menunut Direktur Indef Enny Sri Hartati, ada dua faktor yang membuat ribuan triliunan dana tersebut migrasi dari Indonesia ke luar negeri.

Pertama lemahnya penegakan hukum di Indonesia. “Tranksaksi ke luar negeri itu longgar sekali. Misalnya dokumen ekspor impor bisa berbeda dengan barang yang ada di dalam kontainer,” ujar Enny kepada Kompas.com di Jakarta, Senin (25/7/2016).

Ia menilai praktik culas perdagangan luar negeri tersebut sudah jelas menyalahi aturan.

Namun, pengawasan yang longgar membuat penegakan hukum menjadi mandul. Akibatnya, pemerintah tidak mampu menangkap potensi pajak sebenarnya dari aktivitas ekonomi tersebut.

Para pengusaha pun akhirnya memilih menempatkan hasil culasnya tersebut di luar negeri.

Para pengusaha akan berpikir berkali-kali lipat menempatkan hasil bisnisnya di dalam negeri.

Sebab petugas pajak pasti akan mempertanyakan asal dana tersebut.

Faktor kedua kata Enny, migrasinya dana orang Indonesia disebabkan perbedaan kebijakan pajak antar negara.

Sejumlah negara tidak sungkan memberikan tarif pajak korporasi, PPh, hingga PPn jauh rendah dibandingkan di Indonesia, bahkan ada yang nol persen.

Meski imbal hasil (return) deposito perbankannya kecil, sejumlah negara menawarkan pajak yang sangat rendah sehingga dana dari luar negeri berbondong-bondong masuk.

Indef sendiri kata Enny belum memiliki data kapan migrasi besar-besaran dana orang Indonesia ke luar negeri.

Meski begitu, ia menilai pemerintah harus mengambil langkah perbaikan. Hal yang paling mendasar adalah menciptakan iklim investasi atau bisnis yang sehat.

“Perbaiki investasi dan pemberian perizinan dunia usaha harus lebih mudah dan transparan sehingga tidak ada lagi underground ekonomi,” kata Enny.

Baca Juga :  Pasaran terbaru "cabe-cabean" di Jakarta RP 30 juta
Penulis  : Yoga Sukmana
Editor    : M Fajar Marta, Erny
Sumber : Kompas.com

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button