MORAL-POLITIK.COM : Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) boleh dijuluki sebagai provinsi termiskin, dan julukan miris lainnya. Namun jika ditelisik secara cerdas, sumber daya manusia (SDM) NTT lebih unggul dari SDM provinsi lainnya di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sebut saja, banyak media di Jakarta baik cetak maupun elektronik dipimpin oleh orang-orang NTT yang tergolong langka. Mereka setiap harinya memimpin medianya untuk mewartakan artikel seputar love, justice, and peace (cinta, keadilan dan perdamaian).

Begitupun di kancah perpolitikan, hampir di semua partai politik (Parpol) ada orang-orang NTT yang duduk dalam kepengurusan Dewan Pengurus Pusat (DPP). Sosok mereka tak sekedar sebagai pelengkap struktur organisasi, tapi sebagai pemikir, pembela, dan pemenang parpol dalam kancah apa saja.

Cerdasnya orang-orang NTT tak selamanya dapat merubah provinsi seribu pulau ini menjadi makmur dan sejahtera sama seperti provinsi lainnya. Justru dengan kecerdasan tersebut menjadi kendala jika ada pihak lain yang melahirkan ide-ide dan gagasan-gagasan brilliant dengan maksud merubah stigma miris menjadi positif, atau apalah namanya.

Tak heran jika seorang kepala daerah di NTT hendak mencetuskan sesuatu kebijakan bakal menuai respons beragam. Mulai dari mendukung segera, mendukung tapi untuk kurun waktu beberapa tahun kemudian, atau tak mendukungnya sama sekali.

pu1Kepala Dinas PU NTT Andre W.Koreh (kiri), Ketua Komisi V DPR RI Fary Djemi Francis (keempat dari kiri) pada acara HUT PU ke-70, di Kantor PU NTT, Kamis (3/12/2015). Foto: Dok. PU NTT.

Sebut saja isu terakhir yang sedang menghangat bukan saja di NTT, tapi sudah menggelinding ke seluruh belahan Nusantara dan planet bumi ini. Adalah perjuangan Gubernur NTT Frans Lebu Raya (Frans), yang dioperasionalkan oleh Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) NTT Andre W. Koreh (Andre) untuk membangun Jembatan Pancasila Palmerah yang menghubungkan Desa Palau di Larantuka dengan Desa Tanah Merah di Kecamatan Adonara, dilengkapi dengan turbin listrik energi baru terbarukan berkekuatan hingga 100 Megawatt (MW) lebih, justru mendapat banyak kritikan pedas, dan upaya-upaya lainnya agar ditunda untuk kurun waktu tertentu.

Alkisah perihal kritikan tersebut mengingatkan kembali catatan sejarah ketika Bung Karno hendak membangun Tugu Monas dan Istora Senayan. Begitupun ketika hendak dibangunnya Jembatan San Fransisco.

Tapi apa yang terjadi setelah ketiga proyek monumental tersebut dibangun dan diresmikan, justru menjadi icon yang bukan saja bisa mengangkat harkat dan martabat masyarakat Indonesia dan di San Fransisco, tapi pada akhirnya menjadi icon dunia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

1 + 2 =