Home / Video / Jembatan Pancasila Palmerah, seberapa penting diperjuangkan Gubernur NTT?

Jembatan Pancasila Palmerah, seberapa penting diperjuangkan Gubernur NTT?

Presiden Joko Widodo saat memeriksa 'progress' Bendungan Raknamo di Kabupaten Kupang, belum lama ini. (Foto: Adi Adoe, mediakonstruksintt)

Bagikan Halaman ini

Share Button

MORAL POLITIK : Hidup itu dinamis. Begitupun dengan pembangunan. Sedinamisnya hidup dan pembangunan, mendampak timbulnya kontroversi, hingga ke pernyataan tak sedap di kuping.

Sama halnya ketika Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Frans Lebu Raya berniat untuk membangun Jembatan Pancasila Palmerah yang menghubungkan Desa Palau di Larantuka dengan Desa Tanah Merah di Kecamatan Adonara, dilengkapi dengan turbin listrik energi baru terbarukan berkekuatan di atas 100 Megawatt (MW) dengan memanfaatkan derasnya kekuatan arus laut di Teluk Gonsalu, yang tak setuju selalu berkutak dengan alasan klasik seputar NTT masih butuh pembangunan infrastruktur seperti jalan dan jembatan, NTT masih tergolong provinsi termiskin.

Oleh karena itu dana sebesar Rp. 5 Trilyun lebih untuk membangun jembatan dan turbin listrik energi baru terbarukan dimaksud, sebaiknya diperuntukkan bagi hal-hal lebih prinsip demi pengentasan kemiskinan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Alkisah di atas mengingatkan kami pada sejarah dibangunnya Jembatan San Francisco.

Mengutip wonders4u.wordpress.com, jembatan San Francisco di bangun selama empat tahun mulai tahun 1933 hinggga 1937. Sejak selesai dibangun pada tahun 1937—selama 37 tahun berikutnya, jembatan ini dinobatkan sebagai jembatan terpanjang di dunia. Jembatan yang punya nama lain Golden Gate ini sendiri adalah hasil karya dari proyek raksasa yang dicanangkan oleh Franklin Delano Roosevelt untuk mengatasi pengangguran dan merangsang ekonomi Amerika pasca Great Depression. Proyek jembatan Golden Gate sepanjang sekitar 2 km tersebut menelan biaya sebesar USD 27 Juta Dollar.

Jembatan San Francisco sendiri dibangun di atas pro dan kontra warganya. Namun apa yang terjadi setelah diresmikan, lalu mendapat dukungan dalam bentuk tembang lagu San Francisco yang didendangkan Scott McKenzie, sontak wisatawan dari seluruh belahan dunia membanjiri jembatan ini.

Baca Juga :  Pendidikan Finlandia ranking 1 dunia, rahasianya anti-'full day school'

Akibatnya industri kepariwisataan kewalahan menyiapkan akomodasi, restoran, transportasi, souvenir, dan lain-lain. Maka tak heran jika lamat-lamat sikap skeptis hingga ke penolakan berubah menjadi pengakuan dan pujian bahwa pemerintah telah mengambil kebijakan yang sangat tepat dan strategis.

< 1 2 3 4 5 6 7>

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button