Pdt. Leny Mansopu. (Foto: Akun FB Leny Mansopu)

 

 

MORAL-POLITIK – Kinerja Dinas Pekerjaan Umum (PU) Provinsi Nusa Tenggara Timur  (NTT) di bawah kepemimpinan kepala dinas Andreas William Koreh, dinilai semakin baik.

Penilaian semakin baik itu berbarengan dengan tuaian pujian dari Tokoh Agama di Kota Kupang, Ibukota Provinsi NTT.

Salah satu tokoh agama yang perduli terhadap permasalahan infrastruktur di NTT adalah Pdt. Leny Mansopu.

Ia secara pribadi memberi apresiasi positif untuk kinerja yang baik dari Dinas PU NTT.

Pujian itu tidak asal diberikan tetapi berdasarkan bukti yang ada di lapangan, seperti pembenahan infrastruktur jalan dan drainase. Kinerja yang baik seperti ini diharapkan tetap dipertahankan untuk kamajuan Provinsi NTT tercinta.

Pdt. Leny mengamati bahwa beberapa waktu terakhir, jalan-jalan diperbaiki dengan baik. Khusus di Kota Kupang, perbaikan jalan-jalan tersebut sangat menolong masyarakat. Apalagi perbaikan jalan dilakukan sebelum musim hujan.

Dalam rangka memeriahkan Hari Bakti  (Harbak) PU ke-71 tanggal 3 Desember 2016 nanti, kami meminta waktu khusus untuk berbincang-bincang dengan Pdt. Leny Mansopu.

Pdt. muda nan cantik ini, sangat flamboyan jika diajak berdiskusi, lebih-lebih bertemakan kepentingan masyarakat atau publik.

Berikut ini simak wawancara Nyongki Mauleti dengan Pdt. Leny di kediamannya, Kota Kupang, Selasa (15/11/2016) siang.

Apakah Anda sempat mengamati tingkat partisipasi masyarakat terhadap pembangunan infrastruktur di Kota Kupang pada khususnya?

Dari pihak masyarakat sendiri, respon atau dukungan untuk pengerjaan jalan, khusus untuk beberapa tempat, bisa dibilang sangat rendah. Ada masyarakat yang menolak memberikan tanahnya sejengkal, padahal kehadiran jalan untuk kepentingannya juga. Akhirnya pelebaran jalan di beberapa lokasi tidak dapat dilakukan sama sekali. Ini menjadi penanda bahwa untuk perbaikan infrastruktur, tidak hanya dibebankan kepada pemerintah, dalam hal ini Dinas PU NTT, tapi harus melibatkan berbagai pihak, terutama masyakat sebagai pengguna infrastruktur.

Adakah catatan lain di kabupaten-kabupaten?

Itu untuk Kota Kupang, dimana saya tinggal. Akan tetapi sangat disayangkan karena di beberapa kabupaten masih belum terasa pembangunan infrastrukture jalan yang baik. Hal ini perlu mendapat perhatian serius dari Dinas PU NTT.

Bagaimana Anda melihat tentang masalah air?

Soal air, masih menjadi pergumulan panjang bagi kami sebagai masyarakat. Yang kami butuhkan adalah tersedianya bendungan, jebakan-jebakan air untuk menjamin ketersediaan air. Sayangnya beberapa proyek pengadaan bendungan atau waduk tidak dijalankan.

Minimnya penampungan air seperti bendungan atau embung irigasi, embung kecil dan jebakan-jebakan air serta degradasi hutan menyebabkan defisit air di NTT cukup tinggi. Kalau tidak salah mencapai 1,5 milyar m3/tahun.

Dari informasi yang saya dapat, Dinas PU NTT dan Renstra 2014-2018 menargetkan pembangunan bendungan atau waduk minimal 10 buah, embung irigasi 200 buah dan embung kecil 4.000 buah untuk menjawab permasalahan krisis air di NTT.

Ini rencana program yang baik, namun harus berhadapan dengan kendala lahan atau lokasi pembangunan bendungan atau waduk. Jika diperlukan sekitar 10 waduk atau bendungan dengan ukuran yang sama dengan bendungan Tilong maka dibutuhkan paling tidak 15.490 Ha lahan yang mesti dibebaskan untuk pembangunan tersebut.

lenyPdt. Leny Mansopu. (Foto: Akun FB Leny Mansopu)

 

Apakah hal yang Anda ujarkan tadi itu mudah diperoleh?

Masih segar di ingatan kita tentang sulitnya upaya pembebasan lahan untuk pembangunan Bendungan Kolhua di Kota Kupang, dan beberapa daerah lain. Bahkan masyarakat demo. Menurut saya, persoalan ada ketika masyarakat tidak diberi edukasi yang cukup tentang kebutuhan dirinya sendiri akan ketersediaan air dan kebutuhan orang banyak.

Bendungan Kolhua contohnya, yang direncanakan dibangun di atas lahan warga seluas 81 Ha dengan dana Rp. 480 milyar menuai protes dan konflik. Sejumlah warga menolak pembangunannya karena lahan tersebut merupakan tanah tempat makam nenek moyang dan lahan produktif warga. Padahal secara teknis dan hidrologis, pembangunannya dapat memenuhi kebutuhan tampungan air untuk kehidupan masyarakat NTT. Dan jalan keluarnya semudah pemindahan makam nenek moyang dan lahan pertanian atau perkebunan, justru akan tertolong tapi lihat akibatnya sekarang. Lahan menjadi kering karena kekurangan air. Bayangkan apa yang akan terjadi di tahun-tahun mendatang mengingat defisit air yang semakin menurun.

Kesulitan lain yang dihadapi kala ingin membangun bendungan?

Pembangunan bendungan atau embung saja sudah sulit, padahal selain itu sarana irigasi yang ada banyak yang berada dalam kondisi rusak atau tidak terpakai, karena kerusakan akibat umur bangunan, minimnya biaya operasi, kondisi bendung yang rusak akibat debit banjir berlebihan. Ini persoalan yang patut menjadi pergumulan bersama baik pemerintah maupun masyarakat.

Dengan menggumpalnya persoalan tersebut, masih adakah harapan bagi masyarakat Kota Kupang untuk memperoleh Bendungan Kolhua?

Pdt. Leny Mansopu. (Foto: Akun FB Leny Mansopu)
Pdt. Leny Mansopu. (Foto: Akun FB Leny Mansopu)

 

Apapun persoalan, hal yang patut diutamakan adalah pemenuhan kebutuhan air. Sebab air adalah kebutuhan vital manusia. Katakanlah pemenuhan kebutuhan air minum Provinsi NTT mesti diperuntukkan untuk mencukupi kebutuhan penduduk NTT sekitar 5.249.767 jiwa, yang terdiri dari 1.355.288 jiwa tinggal di daerah perkotaan, dan 3.894.479 jiwa tinggal di pedesaan. Sementara itu kondisi pemenuhan air di kota baru mencapai 51,8% (677.644 jiwa) dan di desa hanya sekitar 30,4% (1.188.514 jiwa). Dengan demikian secara keseluruhan, pemenuhan kebutuhan air masyarakat NTT baru mencapai 35,54% dengan jumlah sambungan rumah sekitar 112.940 sambungan (11,9%) dari 950.753 yang harusnya dipenuhi. Menjawab persoalan ini dibutuhkan dana yang tidak sedikit dan kerja keras dari semua pihak. Karenanya saya mengajak kita semua untuk berdoa dan bekerja bersama demi pemenuhan kebutuhan kita juga.

Anda punya solusi, setidaknya bagaimana peran gereja untuk memecahkan persoalan yang diujarkan tadi?

Tugas kita sebagai gereja adalah menghadirkan shalom Allah di tengah dunia. Shalom di sini adalah semua orang menikmati damai sejahtera sebagai tanda kehadiran Kerajaan Sorga dimana tidak ada yang lapar dan tidak ada yang haus lagi. Semua mendapatkan yang cukup untuk pemenuhan kebutuhannya. Jangan biarkan usaha pemenuhan kebutuhan hidup kita oleh pemerintah dipengaruhi oleh berbagai urusan politik, sosial, budaya dan kelembagaan yang menyulitkan. Mari beri dukungan penuh kepada pemerintah dan Dinas PU NTT untuk melakukan kerja hebat dan kerja memberkatinya.

lePdt. Leny Mansopu. (Foto: Akun FB Leny Mansopu)

 

Semua yang diujarkan Pdt. Leny H.F. Mansopu benar adanya. Kini terpulang kembali kepada pemangku jabatan, dan masyarakat sebagai pemangku kepentingan pelayanan infrastruktur. Jika saja dua komponen ini bisa bersinergi dalam semangat Shalom Allah, semua akan indah ketika waktunya tiba….

 

 

Penulis  : Nyongki Maulety
Editor     : V.J.Boekan
Sumber : Majalah Bakti PU Edisi Kedua 2016

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

4 + 3 =