MORAL-POLITIK.COM : DPRD Kota Kupang mendiskursus kebijakan penyulingan air laut menjadi air tawar sebagai solusi untuk mengatasi kelangkaan air bersih di Kota Kupang yang di perumpamakan sebagai Kota Kasih dan Kota Flamboyan ini.

Sayangnya diskursus tersebut direspons tawar oleh pihak Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Kupang.

“Sehubungan dengan wacana mengelola air laut menjadi air tawar yang disuarakan oleh DPRD Kota Kupang, secara prinsip sangat dihargai oleh PDAM Kota Kupang, karena Kota Kupang sementara ini mengalami krisis air. Namun wacana tersebut bukan barang baru, karena pihak PDAM Kota Kupang telah melakukan analisis soal penyulingan air laut menjadi air tawar pada tahun 2009 lalu,” kata Direktur PDAM Kota Kupang Noldy Mumu kepada moral-politik.com di ruang kerjanya, Kota Kupang, Jumat (20/1/2017) siang.

Menurut Mumu, dari hasil analisis tersebut penyulingan air laut dibagi dalam dua kategori yaitu pengolahan destilasi dan reserveosmosis. Pengolahan sistem destilasi biayanya cukup besar mencapai Rp. 35 miliar untuk alat yang kapasitas produksi sebesar 50 liter per detik, namun kualitas air yang dihasilkan dalam kondisi standar. Sedangkan pengolahan sistem reserveosmosis jauh lebih mahal karena kualitas yang dihasilkan melalui pengolahan ini menghasilkan kualitas air yang sangat baik dan bisa di konsumsi langsung, namun produksi untuk kapasitas 50 liter per detik, mesin pengolahnya seharga Rp. 50 miliar.

Kata dia, enggan menggunakan kedua metode pengolahan tersebut, biaya paling minim yang dikenakan kepada pelanggan sebesar Rp. 15 ribu per meter kubik, sehingga dengan kondisi keuangan daerah pada saat itu, pihak PDAM batalkan rencana sistem pengolahan air laut menjadi air tawar.

“Kondisi analisa delapan tahun lalu cost (biaya) opersionalnya cukup mahal. Selain investastasi infrastruktur pun sangat mahal untuk menghasilkan kapasitas produksi yang kurang dari 50 liter per detik dibutuhkan investasi infrastruktur antara Rp. 30 sampai Rp. 50 milliar. Kami tidak tahu lagi perkembangan dalam beberapa tahun terakhir seperti apa. Apakah sudah perubahan kondisi, tetapi itu merupakan analisa kami pada delapan tahun lalu,” pungkas Mumu.

Baca Juga :  Feliksberto Amaral: Kelompok e-Warong siap ikut Bimtek

 

Penulis : Nyongki

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here