MORAL-POLITIK.COM : Hari ini, Senin (23/1/2017) massa FPI yang berjumlah sekitar 2000 orang akan berunjuk rasa.

Massa FPI bergerak dari titik kumpul di Masjid Al-Azhar, lalu diikuti dengan long march hingga ke markas Polda Metro Jaya.

Aksi ini berkaitan dengan pemeriksaan terhadap Rizieq sehubungan dengan ceramahnya terkait logo Bank Indonesia pada lembaran uang yang mirip palu arit yang identik dengan komunis.

Dua ribu orang? Sepertinya masih kurang cukup. Kenapa tidak tambah lebih banyak? Lagi pula untuk apa mengerahkan massa segitu banyak untuk mengawal Rizieq? Pengerahan massa sebanyak ini lebih banyak ruginya daripada untungnya. Gara-gara mereka, sudah pasti akan terjadi kemacetan, lalu lintas dialihkan. Yang rugi siapa? Pengguna jalan. Massa FPI mana mau tahu dengan yang beginian.

Belum lagi personel kepolisian yang harus kerja ekstra untuk melakukan pengawalan. Biayanya dari mana? Dari uang rakyat, dari pajak rakyat. Apakah massa FPI berpikir sampai ke situ? Saya rasa tidak. Kenapa tidak pantau saja dari rumah, kenapa harus rombongan ke markas Polda Metro Jaya? Apakah ingin membuktikan bahwa mereka kuat dengan adanya massa yang banyak atau ingin melakukan intimidasi atau penekanan atau semacamnya?

Belum lagi potensi terjadinya tindakan anarkis atau kerusuhan. FPI sudah identik dengan citra negatif karena berbagai tindakan anarkis dan seringkali terlibat perseteruan dengan kelompok lain. Kalau sudah rusuh, siapa yang susah? Masyarakat sekitar, pengguna jalan dan kepolisian akan susah meredam itu semua. Apakah mereka berpikir sampai ke situ? Saya rasa tidak.

Belum lagi ada potensi penyusup seperti kasus bendera yang dicoret. Nanti alasannya bukan simpatisan FPI. Nanti kalau ada apa-apa, alasannya itu bukan tanggung jawab FPI, tapi oknum lain. Ada apa-apa yang disalahkan adalah oknum lain. Nanti kalau ada masalah, bilangnya ada provokator. Pas rusuh, bilangnya itu bukan anggota FPI. Padahal intinya adalah kalau mereka tidak unjuk rasa, tidak akan ada penyusup seperti itu. Apakah mereka berpikir sampai ke situ? Saya rasa tidak.

Baca Juga :  Agus: Jakarta adalah sebuah sistem ruang kehidupan...

Padahal kepolisian telah memberi himbauan agar Rizieq tidak mengerahkan massa. Tapi FPI sepertinya tidak pernah mau patuh dan terkesan angkuh. Ketua Umum DPD FPI Jakarta Habib Muhsin Alatas mengatakan polisi mempunyai wewenang memberikan himbauan tapi niat masyarakat untuk datang adalah hak. Atas dasar itu, menurutnya, niat masyarakat untuk datang tidak dapat dibendung. Masyarakat datang karena merasa terpanggil untuk mengawal Rizieq.

Dan Rizieq sendiri mengaku tidak pernah meminta dikawal massa. Kalau memang begitu, kenapa Rizieq tidak mengimbau langsung pada massa supaya tidak bikin sesak jalanan. Rizieq sebagai imam besar FPI masa tidak bisa memberi arahan pada massa? Pertanyaan ini tentu memancing kecurigaan bahwa Rizieq bukan tidak bisa, tapi terkesan tidak mau. Kalau benar-benar mau, Rizieq pasti bisa meminta massa untuk tidak mengawal dirinya. Bukan bisa atau tidak bisa, masalahnya adalah mau atau tidak mau.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here