MORAL-POLITIK.COM : Diskursus perihal Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) di beri penilaian sebagai peringkat ketiga termiskin di Indonesia semakin marak. Apa indikatornya sehingga NTT diberikan label miris tersebut?

“Indikator penyebab kemiskinan di NTT merupakan peranan dari komoditi makanan. Komoditi ini berpengaruh terhadap garis kemiskinan yang perannya jauh lebih besar dibandingkan dengan peranan komoditi bukan makanan seperti perumahan, sandang, pendidikan dan kesehatan,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTT Maritje Pattiwae Lapia kepada moral-politik.com, di Kota Kupang, Jumat (6/1/2017) siang.

Ia menjelaskan, komoditi yang memberi sumbangan besar terhadap garis kemiskinan di NTT pada September 2016, baik di perkotaan maupun perdesaan adalah beras, kemudian diikuti rokok.

“Masyarakat kita merasa tidak makan, tidak apa-apa yang penting asap ngepul (merokok) lancar terus. Ini pola konsumsi yang kurang bagus. Biar rokok harganya mahal tetap merokok. Padahal masyarakat dengan penghasilan rendah seharusnya memprioritaskan kebutuhan mendasar dibandingkan kebutuhan lainnya,” katanya.

Dia menambahkan, apabila penduduk memiliki penghasilan per bulan Rp. 1, 5 Juta tidak masuk kategori miskin. Tetapi di NTT umumnya, rata-rata pekerja tidak mendapat upah yang layak. Memang upah minimum di NTT sudah menyentuh angka itu, tetapi berdasarkan pantauan kami banyak pekerja di NTT yang tidak mendapat upah sesuai upah minimum. Belum lagi dutambah pola konsumsi yang kurang baik (merokok).

Maritje menyatakan, peran BPS adalah memotret kondisi kemiskinan di NTT untuk dicarikan solusinya.

“Peranan BPS yaitu memantau, memotret kondisi kemiskinan di daerah ini. Diperlukan kerja sama semua pihak untuk mengentaskan kemiskinan,” tambahnya.

Baca Juga :  Jenny Bhasarie ungkap rahasia Hotel SMKN 3 Kupang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here