MORAL-POLITIK.COM : Kegaduhan politik berbau SARA yang sudah dimulai sejak Jokowi-Ahok naik menjadi DKI1-2 di tahun 2012, mencapai matang di Pilpres 2014 ketika Jokowi menjadi RI1, dan Ahok menjadi DKI1.

Dalam prosesnya, FPI (Front Pembela Islam) yang wajah depannya identik dengan Riezig Shihab berkembang menjadi ormas intoleran, radikal, sekaligus laris dipakai kepentingan-kepentingan politik yang berbenturan.

Setelah itu, seperti singa yang mengaum-aum mencari lubang, maka akhirnya melalui Ahok arus politik SARA mencapai klimaks melalui demo 411, dan 212. Demo yang coba disakralkan dengan membuat koperasi, produk, bahkan demo susulan yang berbau sama. Menggelikan, tapi itulah realitasnya.

Ahok dijadikan pintu untuk menggoyang Jokowi. Tapi skenario itu keburu dipatahkan, orang-orang yang hendak makar segera dipadamkan. Tapi rupanya, kuda tunggangan para politikus, Riezig Shihab, tidak menyadari atau mungkin sudah kepalang basah, maka tetap nekat untuk melancarkan serangan-serangan membabi buta.

Disisi lain, Nahdatul Ulama (NU) ormas Islam terbesar di Indonesia pun terlihat sampai terkaget-kaget ketika Kiai sekelas Gus Mus sampai dihina di medsos, sehingga segera bergerak untuk melindungi kehormatan para Kiainya. Ketua umum NU, KH Said Aqil tidak merekomendasi untuk mengikuti demo 212. Sehingga tensi antara ormas intoleran dan NU pun terlihat meningkat.

Dan ini “gilanya”, tak berhenti disitu, serangan ke Ahok, Jokowi, dan NU ternyata berlanjut ke PDI-P, partai pemenang dan yang berkuasa saat ini.

Dan serangan ini tidak main-main, melalui demo di depan Mabes Polri, Riezig Shihab mendesak kepolisian untuk memproses Megawati secara hukum atas dasar penistaan agama ketika memberikan pidato politik HUT PDI-P yang ke-44.

Kali ini Riezig offside, dan dia merasakan itu, sehingga meminta dengan nada memelas supaya “didamaikan” secara kekeluargaan terhadap semua pihak (kecuali Ahok) yang beurusan hukum dengan dia termasuk dengan Megawati, meskipun dengan embel-embel ancaman “daripada ada bentrok horizontal” (sumber).

Baca Juga :  Siapa Penggagas Jembatan Palmerah? Inilah Jujurnya Andre Koreh

Tapi rupa-rupanya Rizieg sudah sampai ke point of no return. PDI-P marah besar. Melalui siaran pers (17/1/17), sekjen PDI-P Hasto menyatakan 4 poin yang sangat lugas dan frontal. Sama dengan para ansor yang marah karena Kiai-Kiainya dihina, sekarang kader-kader Banteng mengamuk karena ibu Banteng diusik. Berikut adalah kutipan-kutipan setiap poin (tidak utuh) dari sumber web resmi PDI-P (sumber)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here