Opini: Everd Scor Rider Daniel

 

 

 

MORAL-POLITIK.COM : Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) merupakan kontestasi dan panggung aktualisasi pendapat masyarakat. Realitas penyelenggaraan Pilkada adalah satu kesatuan dari sistem demokrasi.

Hakekat Demokrasi perlu disinggung secara substansial ketika memperbincangkan Pilkada. Demokrasi berasal dari kata demos (rakyat) dan kratos (kekuasaan/pemerintahan). Masyarakat dideskripsikan secara konkret sebagai penguasa dalam demokrasi, dengan slogan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

Demokrasi menjadi sumbangan penting bagi aktualisasi self (diri), dan partisipasi. Aktualisasi dan partisipasi sebagai penyangga bangunan demokrasi. Prinsipnya, demokrasi menjamin ruang kebebasan kepada setiap individu menjalankan hak partisipasi, bertukar pandangan, bersosialisasi, berinteraksi satu sama lain dalam dinamika kebangsaan.

Demokrasi menjamin penyelenggaraan secara luas, umum, bebas dan rahasia (luber). Demokrasi menjunjung model partisipasi kolektif tanpa ada kontrol ataupun tekanan politik. Unsur-unsur dimaksud menjadi syarat wajib (sine qua non). Jalan merawat eksistensi demokrasi adalah dengan mengarusutamakan derajat kebebasan.

Pilkada merupakan ruang pendidikan politik bagi masyarakat. Pilkada bukan hanya wujud seremonial tetapi pendewasaan politik dan pencerahan kolektif berdemokrasi. Melalui berbagai proses transformasi, Pilkada diharapkan dapat membangun realitas objektif sebagai pesta kebebasan seluruh masyarakat.

Kebebasan dan Ruang
Penghormatan terhadap kebebasan sesunguhnya membutuhkan determinasi moral. Moral dimaksud menyangkut pertimbangan baik dan menempatkan kebebasan sebagai sesuatu pemberian (given) yang telah eksis, bawaan manusia sedari lahir. Kebebasan identik dengan hak, yang mana tidak membutuhkan pembuktian, namun lebih bersifat melekat (inheren).

Kebebasan dapat ditelusuri secara a priori atau dalam pengertian KBBI berarti “beranggapan sebelum mengetahui”. A priori dalam konteks pemikiran, yaitu mempertemukan kognisi dan keinginan (Kant, “Kritik atas Akal Budi Praktis, 2005). Manusia dengan sadar membentuk sudut pandang bahwa kebebasan adalah miliknya.

Baca Juga :  Pola makan, solusi lain disfungsi ereksi (5)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here