MORAL-POLITIK.COM : Sering kali manusia memaksa kehendaknya kepada orang lain, padahal sudut pandang antarasatu dengan lainnya ditakdirkan berbeda.

Jika Anda adalah orang yang cukup akrab dengan teknologi masa kini, minimal smartphone, apa yang Anda rasakan ketika tidak membuka Media Sosial (Medsos) satu hari saja? Pasti rasanya ada yang kurang. Terlebih kalau Anda merupakan tipikal user yang setiap waktu selalu update status atau informasi di media sosial.

Entah itu hanya memeriksa notifikasi facebook, melihat kabar terbaru artis idola di Instagram, mengintip tweet selebritis dunia atau mengunggahkan foto di Path. Apapun itu, Medos seakan bergeser peranan dari sekedar tempat berbagi menjadi kebutuhan yang agak primer.

Potensi akan Medos ini disadari betul oleh para produsen untuk memasarkan produknya. Target konsumen yang lebih luas dan keuntungan yang lebih besar membuat produsen berlomba-lomba mengembangkan strategi internet marketing. Hasil yang diperoleh memang sesuai tujuan. Media sosial menjadi lahan bisnis yang basah dibandingkan berjualan secara offline.

Demikian juga dengan selebritis, kegiatan sehari-hari sampai jadwal konser tak luput mereka tunjukkan kepada para penggemar lewat media sosial. Selain memudahkan para idola untuk menyapa fans mereka, secara tidak langsung ada upaya promosi untuk meningkatkan popularitas. Asumsi itu terbukti dengan adanya stereotipe yang mengatakan bahwa semakin populer artis atau public figure, maka follower-nya semakin banyak.

Setali tiga uang dengan para pengejar profit dan selebritis, para politisi juga tak mau ketinggalan mengoptimalkan media sosial. Ruang maya tersebut diisi dengan kampanye politik di saat pemilihan atau minimal diisi dengan kegiatan sehari-hari sang politisi untuk menunjukkan sisi ‘humanis’nya.

Barack Obama dikenal sebagai presiden yang memenangkan pemilu AS dengan strategi memanfaatkan media sosial. Sekitar 48 juta likers facebook tercatat berhasil direngkuh pada laman Facebook miliknya. Para analis menilai bahwa popularitas Obama di Medos lah yang berhasil membawanya menduduki kursi nomor satu negeri adidaya tersebut.

Baca Juga :  Kawal Nawa Cita, LSM AZNO dan Kemendagri gelar Seminar Nasional

Pada era dimana Medos amat masif, perannya tak bisa dipandang sebelah mata. Media sosial bisa menjadi sarana untuk mendatangkan manfaat atau menebarkan provokasi yang berdampak negatif. Inilah yang disadari betul oleh Presiden Joko Widodo. Beliau paham bahwa kemajuan karir politiknya juga tidak lepas dari peran media sosial namun kini media sosial dapat menjadi alat yang digunakan oleh pihak-pihak tertentu untuk mendeligitimasi pemerintah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here