MORAL-POLITIK.COM : Benar sekali ungkapan kaum cerdik pandai bahwa gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama.

Bukan saja orang Desa Waling, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur yang berduka dengan berpulangnya Bapak Piet Paga, Minggu (1/1/2017) di Kabupaten Manggarai, tapi semua warga Manggarai Raya (Manggarai, Manggarai Timur, dan Manggarai Barat) sangat trenyuh dengan kepergiannya.

Betapa tidak? “Mekas” Piet Paga semasa hidupnya pernah menjelajah sejumlah tempat di Manggarai dalam kapasitasnya sebagai Guru Sekolah Dasar.

Terakhir “Mekas” Piet Paga menyudahi masa baktinya di Waling. Sebab itu orang Waling di seluruh penjuru dunia merasa sangat kehilangan sosok yang juga dipandang sebagai “guru kehidupan” ini.

“Mekas” Piet Paga selalu dikenang sepanjang peradaban dunia karena telah memperkenalkan peralatan bertani, berkebun, berdagang, serta spirit-spirit dalam menganyam cita-cita dan cinta kasih untuk merubah masa depan  pribadi dan memajukan Manggarai tercinta.

Sosok tua renta dengan postur tubuh tegak setinggi 180 cm itu, terkenal sangat baik dan disayangi, karena selalu hadir pada acara-acara adat di Waling.

Kendati berangkat dari Ruteng menggunakan Bus Kayu, lalu berjalan kaki dari rumah ke rumah, tapi ia tak pernah mengeluh lelah.

Budayawan asli Manggarai yang menyimpan, mengingat secara baik dan benar semua adat istiadat Manggarai ini laksana “Perpustakaan Berjalan”. Apa saja yang ditanyai dengan senang hati dijawabnya bak seorang guru menjelaskan kepada murid-murid di ruang kelas.

Baca Juga :  Israel dilanda kebakaran hebat bak ‘Api Neraka’ usai protes dan larang Adzan?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here