MORAL-POLITIK.COM : Sidang kasus Ahok cenderung semakin panas. Tim pengacara calon gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) ini yang tergabung dalam Anggota Tim Advokasi Bhinneka Tunggal Ika-BTP akan mengajukan surat keberatan ke Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara.

Keberatan yang akan diajukan lantaran keterangan para saksi pelapor dinilai telah menyampaikan kebohongan dalam proses persidangan.

Salah satu pengacara Ahok, Humphrey R Djemat mengatakan kebohongan itu terungkap dalam proses persidangan dengan agenda pemeriksaan para saksi yang digelar kemarin, Selasa (3/1) di gedung Auditorium Kementerian Pertanian, Ragunan, Jakarta Selatan.

Dijelaskannya, berdasarkan Berita Acara Pemeriksaaan (BAP) saksi pelapor, terutama mengenai barang bukti video, rata-rata saksi yang dihadirkan hanya mengambil video berdurasi 9 detik, 13 detik dan 9 menit dari pidato Ahok di Kepulauan Seribu 27 September 2016 lalu. Padahal, video tersebut berdurasi 1 jam 40 menit.

“Dari laporan para saksi, semuanya melaporkan itu video pidato Ahok yang durasinya 9 detik, 13 detik. Yang 13 detik itu mengenai Al Maidah,” terang Humphrey dalam diskusi publik dengan tema ‘Kriminalisasi Kasus SARA’ yang digelar di Rumah Lembang, Jalan Lembang, Menteng, Jakarta Pusat, Jakarta, Rabu (4/1).

Pihaknya meragukan dan mempertanyakan siapa lagi yang mengedit video 9 detik ini. Ia duga, video tersebut juga hasil editan orang yang sama, yaitu hasil editan Buni Yani.

“Kalau kata “pakai”-nya dihilangkan bisa saja lebih pendek durasinya. Kita akan telusuri,” ujarnya.

Ahok menjadi terdakwa kasus penistaan agama setelah dia dilaporkan karena mengucapkan kalimat “dibohongi pakai Al Maidah 51” kepada warga Kepulauan Seribu. Di awal kasus ini, sempat terungkap ada kesalahan transkrip kalimat itu di mana kata “pakai” tidak ada, dalam video yang diunggah ulang oleh Buni Yani.

Baca Juga :  Sesalkan Alokasi DAK Menurun, Anwar Pua Geno: Pemprov Koordinasi dengan Pempus!

Selain video berdurasi 9 detik dan 13 detik, Humphrey juga mengungkap video berdurasi 9 menit dan bukan 1 jam 40 menit. Padahal, pidato Ahok itu dalam rangka program kerja Pemprov DKI Jakarta menyangkut budidaya ikan kerapu.

“Ahok itu nggak ada kepentingan pilkada walaupun sudah mendaftar sebagai peserta pilkada. Karena kata-kata ‘nggak pilih’ ini ada enam kali. Kata-kata ‘pilih saya’ nggak ada. Kalau dia kampanye kan pasti dia (katakan) ‘pilih saya’. Jadi, konteksnya bukan dalam kampanye,” jelasnya.

Dalam pidato tersebut, lanjutnya, Ahok menyinggung progam pemprov DKI Jakarta sebanyak empat kali.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here