Foto: Angga Lispro/Moral-politik.com

 

MORAL-POLITIK.COM – Bencana badai yang memporak-porandakan tiga kecamatan di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) masih terus menyayat hati warganya.

Betapa tidak, kejadian yang tak pernah diidam-idamkan itu datang sontak lalu menumbangkan jutaan pohon dan ribuan rumah yang di bangun warga dengan keringat darah.

Selain itu gardu listrik pun nyaris roboh, eksesnya listrik PT. PLN padam. Sudah dua hari warga hidup gelap, tak bisa mengakses siaran televisi.

Kejadian alam murka itu terjadi di tiga kecamatan penghasil kebutuhan pokok masyarakat Sikka, yaitu Kecamatan Paga, Tanawawo, dan Mego.

Pemerintah tak bisa disalahkan. Tapi pemerintah, terutama Kabupaten Sikka harus turun dan melihat langsung duka dan air mata warganya sendiri.

Wartawan moral-politik.com, Angga Lispro yang hadir di lokasi bencana malah dikira Bupati Sikka lantaran tubuhnya yang tinggi dan berbobot di atas 70 Kg.

“Pak Bupati tolong kami,” ungkap seorang warga berusia sekitar 70 tahun.

Angga terkekeh lalu menjelaskan identitas dirinya.

“Pak Wartawan tolong muat pilunya tragedi yang kami hadapi, biar pemerintah tergerak hati nuraninya,” gumam dia terdengar parau sekali.

Seorang gadis cantik mengeluhkan lain, katanya, atap sekolah adik kami dibawa badai entah kemana rimba rayanya. “Musim hujan begini, bagaimana siswa setempat bisa menuntut ilmu,” desahnya terbata-bata.

Berikut ini foto-foto yang berhasil di potret Angga Lispro:

Sebelumnya media ini mewartakan, bencana angin kencang atau badai yang menimpa Kabupaten Sikka, khususnya di Kecamatan Paga, Tanawawo, dan Mego membuat ratusan rumah warga masyarakat Lio rusak parah.

Masyarakat tersebut ibarat sedang berduka. Bayangkan saja ratusan rumah mereka rusak parah, tanaman yang menjadi sumber kehidupan mereka rusak berat, ditambah lagi sampai hari ini belum ada perhatian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sikka untuk memberikan bantuan yang dapat mengurangi beban mereka.

Badai ini bukan saja merusak rumah warga tetapi juga bangunan Sekolah Paud, rumah Dinas Koramil, Antena PLN rusak berat, sebagai imbasnya jaringan listrik padam.

Salah satu Warga Desa Dobo Nuapuu, Kecamatan Mego, Alexander Taragi mengatakan, angin kencang dan ditambah dengan hujan lebat sudah terjadi selama tiga hari. Angin kencang ini merusak sekitar 20 rumah warga dan beberapa tanaman yang menjadi hasil komoditi seperti vanili, kakao, dan kelapa juga menjadi sasaran angin yang sampai hari ini masih menggangu mereka.

Pohon tumbang, katanya, terjadi dimana-mana membuat akses jalan warga untuk melintasi tertutup. Angin kencang dan ditambah hujan lebat tersebut membuat beberapa daerah menjadi longsor.

Untung bencana ini tidak menelan korban jiwa, hanya rumah dan tanaman menjadi korban.

Sampai hari ini, tambahnya, belum ada perhatian Pemerintah Kabupaten Sikka untuk memberikan bantuan berupa makanan dan minuman agar dapat mengurangi beban mereka. Untuk sementara ini kami bersama keluarga dan masyarkat lainnya yang menjadi korban belum bisa tidur di rumah.

“Kita lagi berduka, rumah rusak parah, tanaman menjadi korban. Saya hanya memikirkan saja bagimana bisa membiayai anak saya yang masih kuliah. Sampai hari ini juga belum ada perhatian dari Pemerintah Daerah untuk melihat kami,” kata Alex dengan penuh sedih menatap rumah kepada moral-politik.com, di kediamannya, Rabu (8/2/2017) siang.

Ia berharap agar pemerintah dapat melihat kondisi yang dialami oleh masyrakat yang terkena musibah ini.

Berdasarkan pantuan lamngsung wartawan, hampir semua desa di Kabupaten Sikka ditimpa bencana angin kencang yang merusak puluhan rumah. Akan tetapi sangat disayangkan, hingga ketika kini belum ada data pasti dari instansi yang berkompoten perihal berapa jumlah warga yang didera musibah, dan bagaimana uluran tangan pemerintah setempat.

 

 

Penulis : Angga Lispro

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ncana angin kencang atau badai yang menimpa Kabupaten Sikka, khususnya di Kecamatan Paga, Tanawawo, dan Mego membuat ratusan rumah warga masyarakat Lio rusak parah.

Masyarakat tersebut ibarat sedang berduka. Bayangkan saja ratusan rumah mereka rusak parah, tanaman yang menjadi sumber kehidupan mereka rusak berat, ditambah lagi sampai hari ini belum ada perhatian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sikka untuk memberikan bantuan yang dapat mengurangi beban mereka.

Badai ini bukan saja merusak rumah warga tetapi juga bangunan Sekolah Paud, rumah Dinas Koramil, Antena PLN rusak berat, sebagai imbasnya jaringan listrik padam.

Salah satu Warga Desa Dobo Nuapuu, Kecamatan Mego, Alexander Taragi mengatakan, angin kencang dan ditambah dengan hujan lebat sudah terjadi selama tiga hari. Angin kencang ini merusak sekitar 20 rumah warga dan beberapa tanaman yang menjadi hasil komoditi seperti vanili, kakao, dan kelapa juga menjadi sasaran angin yang sampai hari ini masih menggangu mereka.