Ilustrasi. (foto: myimung.wordpress.com

 

MORAL-POLITIK.COM – Suasana sangat mencekam terjadi di Kabupaten Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Situasi ini laksana sebelum terjadinya bencana gempa bumi tektonik dan gelombang pasang tsunami pada 12 Desember 1992 yang lalu.

Badai atau angin kencang dan gelombang laut kali ini telah memporak-porandakan Kabupaten Sikka. Badai yang terjadi itu, mengakibatkan banyak pohon tumbang, rumah warga ambruk, gelombang laut tinggi menyebabkan pelabuhan laut Feri roboh, rumah-rumah warga terkena abrasi, kapal tenggelam, dan nelayan tidak bisa melaut.

Berdasarkan pantuan Moral-politik.com, Selasa (7/2/2017), angin kencang ini menyebabkan pohon tumbang lalu merusak beberapa rumah warga, bangunan sekolah atapnya rusak parah terbawah angin, dan pohon tumbang merusak beberapa fasilitas umum seperti kantor-kantor pemerintahan, sekaligus lalulitas terhambat.

Kejadian ini terjadi di beberapa lokasi, antara lain Kelurahan Waioti, Madawat, Kota Uneng, dan beberapa desa yang ada di Kabupaten Sikka.

Perihal gelombang laut yang tingginya sekitar lima meter itu, membuat Pelabuhan Feri yang berada di Kewapante terbelah dua, kapal nelayan tenggelam, beberapa rumah yang berada di pesisir pantai rusak parah, dan nelayan sampai hari ini tidak melaut.

Angin yang sangat kencang ditambah dengan hujan yang tidak pernah berhenti membuat masyarakat yang berada di Kota Maumere menjadi ketakutan dan hal tersebut semakin diperparah dengan listrik PLN padam.

Sampai hari ini belum ada korban jiwa, tetapi kerugian material akibat bencana ini mencapai sekitar Rp 3 miliar lebih.

Muhamad Daeng Bakir

Kepala BPBD Kabupaten Sikka Muhamad Daeng Bakir kepada media ini mengatakan, kita sudah turun di beberapa lokasi yang terkena bencana seperti di daerah Wuring yang sangat parah akibat gelombang laut. Mereka telah kita ungsikan ke daerah yang aman.

Kita telah memberikan bantuan seadanya, tambahnya, untuk mengurangi beban mereka. Untuk di tempat lain juga sudah kita data rumah-rumah penduduk yang kena dampak tersebut agar kita bisa memberikan bantuan secepatnya.

“Tadi ada beberapa warga yang datang melapor di kantor dan kita perintahkan petugas kita untuk mendata mereka agar segera dapat bantuan bahkan tadi saya juga langsung turun ke lokasi-lokasi yang menjadi korban,” jelas dia.

Ia menambhakan, untuk beberapa masyarakat di pesisir pantai yang kena dampak abrasi kita sudah turun ke lokasi tersebut dan telah memberikan bantuan sementara untuk mengurangi beban mereka.

“Petugas kita sudah data bahkan mereka juga datang melapor sendiri,” pungkas dia.

Sampai berita ini diturunkan, badai ditambah hujan masih terjadi terus menerus. Jalan-jalan di Kota Maumere penuh dengan ranting-ranting pohon yang berserahkan di jalan. Beberapa pohon yang tumbang juga belum bisa dibersikan karena cuaca yang sangat ganas ini.

Ada beberapa pengguna jalan merasa takut untuk berpergian karena takut pohon-pohon besar yang berada di sepanjang bibir jalan tumbang.

Laut Flores sampai sekarang masih bergelombang dan tidak ada nelayan yang berani melaut.

 

Penulis : Angga Lispro

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

47 − = 37