Home / News NTT / Jembatan gantung terbawa banjir, warga 3 kelurahan trenyuh

Jembatan gantung terbawa banjir, warga 3 kelurahan trenyuh

ilustrasi. (foto: aceh.tribunnews.com)

Bagikan Halaman ini

Share Button

MORAL-POLITIK.COM : Jembatan gantung yang terletak di RT. 03, RW 01 Kelurahan Naimata, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) hanyut terbawa banjir.

Jembatan yang menjadi penghubung antara Kelurahan Maulafa, Naimata, dan Oebufu, khusus bagi pejalan kaki ini, hanyut dibawa banjir pada Rabu (1/2/2017) kemarin.

Dominikus Tausu, salah satu warga Kelurahan Naimata mengatakan, hanyutnya jembatan gantung itu disebabkan banjir di sungai Liliba akibat hujan deras yang melanda wilayah Kota Kupang dalam beberapa pekan terakhir. Hujan lebat yang terjadi kemarin .menyebabkan air sungai meluap cukup tinggi dan membawa sejumlah material yang kemudian menghayutkan jembatan gantung tanpa berbekas.

“Jembatan yang dibuat menggunakan tali sling dan papan tidak berbekas di lokasi, semua material jembatan hanyut terbawa derasnya air, entah kemana,” tambahnya.

Menurut Tausu, yang juga Anggota DPRD Kota Kupang, akibat terputusnya jembatan itu, warga dari Kelurahan Naimata, Liliba dan Maulafa yang biasa menggunakan jembatan itu sebagai akses jalan pintas dengan berjalan kaki, tidak bisa jalankan aktifitas mereka.

“Warga terpaksa harus memutar jauh dengan menggunakan motor atau jasa ojek jika ingin melakukan kunjungan,” pungkas dia.

Nus Benggu

Sementara itu Lurah Naimata Nus Benggu yang dihubungi terpisah, mengaku belum mendapat laporan dari RT, dan RW soal hanyutnya jembatan gantung tersebut. Namun dirinya mengaku akan melakukan pengecekan langsung ke lokasi untuk mengetahui dengan jelas.

 

Penulis : Nyongki

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

MENGAGAS BENGKEL BUDAYA

Oleh: Felik Hatam
Karyawan STKIP St. Paulus Ruteng
[email protected]/ HP 081 338388036

Dasar Gagasan

Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) patut berbangga dengan keistimewaan alam dan budaya yang mempesona dan menarik perhatian dunia. Banyangkan saja, pada akhir tahun 2016 lalu ada 882. 395 wisatawan yang telah menginjakkan kaki di bumi NTT, dengan rincian 769. 962 wisatawan Nusantara dan 112.433 wisatawan manca Negara; jumlah ini mengalami peningkatan 20% dari tahun sebelumnya (beritalima.com). Data lain yang menarik perhatian adalah jumlah wisatawan yang masuk melalui Labuan Bajo sampai akhir November 2016 adalah 65.000 (beritalima.com). Apalagi dengan kunjungan Valentino Rossi di Labuan Bajo pada tanggal 23 Januari 2017. Kunjangan pembalap Motto GP asal Italia itu patut diapresiasi, lantas tokoh ini sebagai salah satu figure yang mendunia. Secara tidak langsung kedatangannya sebagai salah satu bentuk promosi dan meyakinkan dunia akan keindahan alam NTT umumnya, Labuan Bajo khususnya.
Meningkatnya kunjungan wisatawan di NTT adalah kebanggaan dan harus menjadi cita-cita semua pihak. Oleh karena itu keunikan dan kekayaan alam janganlah dijadikan satu-satunya alat untuk meransang jiwa para wisatawan, namun perlu memikirkan aset-aset lain yang perlu diperhatikan secara serius. Aset yang dimaksudkan adalah budaya. Termasuk infrastruktur dan jaringan komunikasi sabagai sarana penunjang.
Budaya atau kearifan lokal dan kekayaan alam harus menjadi satu paket untuk memberikan kepuasan kepada wisatawan. Memang kita akui, selama ini begitu banyak momen yang mementaskan berbagai macam tarian budaya di seluruh pelosok NTT ini. Tetapi hal semacam itu hanya bersifat momentum, yang hanya disaksikan oleh kita sendiri. Tidak ada respek yang luar biasa dari setiap kesempatan itu. Karena sifatnya momentum, maka mereka yang mengambil bagian dalam kesempatan itu, hanya ada dan hadir saat itu saja.
Maka dengan demikian, bengkel budaya penting untuk menciptakan keunikan baru yang memberi kepuasan bagi para pengunjung wilayah NTT.

Baca Juga :  Pemkot Kupang benahi DPT, Komisi I bereaksi

Bengkel Kebudayaan
Kamus Bahasa Indonesia (E-Kamus) mengartikan bengkel sebagai: tempat memperbaiki, pabrik kecil, tempat tukang bekerja, tempat berlatih, tempat melakukan kegiatan pasti. Sehingga ketika disebut sebagai bengkel budaya dapat diartikan sebagai berikut: a. tempat menumbuhkan kembali (pabrik) budaya atau kearifan yang terancam hilang, b tempat menciptakan atau menumbuhkan semangat kebudayaan, c. tempat mempertahankan dan mewarsikan nilai-nilai kebudayaan.
Bengkel kebudayaan sebagai tempat lahir dan bertumbuh serta berkembangnya wawasan kebudayaan dalam diri setiap orang. Sekaligus wahana melahirkan diri dan pribadi yang sangat mencitai kebudayaan.

Tempat Strategis Mengagas Bengkel Kebudayaan
Pendidikan
Penanaman nilai-nilai budaya kepada setiap generasi menjadi hal sangat urgen ditengah perubahan zaman yang tidak ada batasnya. Karena itu, sangatlah penting keterlibatan lembaga pendidikan, baik SD, SMP, SMA dan Perguruan Tinggi untuk terus menghidupkan nilai-nilai budaya. Sehingga pada akhirnya membentuk kecerdasan budaya kepada semua (Skill culture for all) generasi. Kemajuan diberbagai bidang pengetahuan menuntut lembaga pendidikan untuk terus menjadi wahana pembentukan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkarakter.
Pendidikan sebagai lembaga formal adalah rahim yang melahirkan manusia Indonesia bermoral, berpengetahuan, berelgius dan berbudaya. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan Nasional (Pasal 1 ayat 2, Bab III Pasal 4 ayat 1) menegaskan bahwa pendidikan nasional berdasarkan pancasila dan UUD 1945 yang berakar pada nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap perubahan zaman; dengan demikian pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskirimtif dengan menjujung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultrual dan kemajemukan bangsa. Sehingga spirit Bhika Tungga Ika harus menyata dalam dunia pendidikan. Artinya tanpa ragu dan cemas setiap jenjang pendidikan mempunyai ruang dan tanggungjawab untuk mengembangkan dan mewariskan nilai-nilai budaya lokal melalalui proses pembelajaran.
Tentu patut diapresiasi bagi lembaga pendidikan yang telah berusaha dan mengambil peran aktif untuk mewariskan nilai-nilai budaya kepada setiap generasi melalui penerbitan buku muatan lokal, pementasan budaya dan lain sebagainya.
Tidak salah, jika setiap jenjang pendidikan memanfaatkan Muatan Lokal sebagai ruang khusus untuk membelajarkan setiap insan terdidik akan nilai-nilai budaya lokal. Selain itu pertahankan dan kembangkan ruang publik sebagai ruang kelas terbuka untuk mengembangkan dan mewariskan nilai-nilai budaya. Ruang kelas terbuka tersebut dapat dilaksanakan melalui pementasan budaya pada setiap momen kenegaraan seperti hari pendidikan Nasional, hari sumpah pemuda, hari pahlawan, Hari ulang tahun Kemerdekaan RI dan ulang tahun sekolah. Memang, selama ini sebagian besar di Manggarai (dan di daerah lain) selalu sering mementaskan budaya, seperti dalam rangka memeriahkan HUT Kemerdekaan RI, Sumpah pemuda dan pada kesempatan lainya. Namun, akan lebih bermakna lagi jika pementasan itu tidak hanya jenis tarian yang sama, tetapi juga bebagai tarian lainya.
Selanjutnya, tidak hanya dipentaskan, tetapi juga pihak-pihak yang bertanggungjawab mengahadirkan mentor yang berkompeten untuk membimbing dan menjelaskan nilai-nilai holistik dari setiap jenis taryan atau gerakan budaya yang dipentaskan. Tentu salah satunya adalah tokoh-tokoh adat. Sebab kita yakin bahwa, tidak semua orang mengetahui makna dan nilai dari semua tarian-tarian budaya itu. Disinilah pentingnya komentator untuk menjelaskan dan mempublikasikan pengetahuannya secara terbuka. Hal posistif lain yang kita dapat disini adalah penjelasan tersebut tidak hanya didengar oleh mereka memperagakan tetapi juga bagi mereka yang turut hadir dalam pementasaan itu.

Baca Juga :  Tangani insiden memalukan di ruang kerja Hermanus Man, Pemkot bentuk Timsus

Pemerintah yang Memberdayakan
Dengan demikian, baik lambaga pendidikan dan pemerintah harus dan terus menjalin komunikasi intens dengan masyarakat yang mempunyai keahlian khusus dalam menghasilkan karya-karya lokal. Semisal bagi masyarakat yang menpunyai keahlian dalam menenun kain daerah (seperti kain songke untuk Manggarai, selendang, dan topi), membuat alat musik tradisional (seperti, gendang, suling, dll), dan lain-lain.
Pemerintah adalah unsur sentral yang mengambil peran sebagai mediator sekaligus sponsor. Sebagai mediator pemerintah mengambil peran penting dalam, (1) membuka bengkel-bengkel budaya, minimal dua disetiap desa atau kelurahan; (2) melegalisasikan seluruh bengkel budaya sebagai tempat dan sumber kebudayaan; (3) menjalin komunikasi intes dengan sluruh bengkel budaya yang sudah dibentuk dan berbadan hukum. Selain itu, dalam rangka mengembangkan bengkel budaya tersebut harus dimuatkan dalam Anggaran pembelanjaan Daerah (APBD). Prinsipnya adalah menyumbangkan uang untuk menghasilkan uang. (4) mempromosikan macam-macam praktek kebudayaan yang memiliki nilai holistik kepada wisatawan oleh lembaga terkait. (5) Pementasan budaya, pameran budaya, seperti tenun masal, memainkan alat musik secara masal harus dijadwalkan secara tetap setiap tahun. Dengan mengahdirkan tokoh-tokoh yang berpengetahuan untuk menjelaskan kepada public tentang makna dan nilai budaya itu sendiri. Penjadwalan yang tetap tersebut akan dipublikasikan kepada publik bersamaan dengan mempromosikan kekeyaan alam. Oleh karena itu, agar jadwalnya tidak bersamaan di setiap kabupaten, sebaiknya diatur oleh pemerintah Propinsi.
Melajutkan komukasi dan relasi itu, pihak-pihak berwajib menyelenggarakan belajar tenun masal yang pesertanya adalah masyarakat yang mempunyai keahlian dan siswa-siswi atau kaum muda. Di sekolah misalnya menyelenggkan live in di daerah yang mempuyai potensi menghasilkan kain daereh (keahlian menenun) dan potensi menghasilkan alat musik tradisional. Tentu hal ini tidak hanya membelajarkan kaum muda tetapi sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat untuk tetap dan terus mewariskan keahlihannya kepada manusia selanjutnya.

Masyarakat
Masyarakat adalah locus istewa serta sumber kebudayaan atau kekayaan lokal. Sungguh menarik bila disetiap kampung atau desa mengembangkan salah satu (syukur kalau lebih) kearifan lokal. Memang saat ini ada begitu banyak sanggar-sanggar budaya. Namun belum mendapatkan perhatian penuh dari pemerintah, dan dari segi manajemen pemasaran masi kurang.

Baca Juga :  Sosialisasi Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya di Kabupaten Sikka

Bengkel Budaya: Jejaring Pementasan Mengurangi Pengangguran
(a). Membangun Jejaring Dilegalkan Dalam Perda. Mengenai tempat dan waktu pementasan harus diatur secara bijak dalam peraturan daerah, baik dari segi legalitas tempat pementasan maunpun hal teknis dan peserta. Semisal, di Manggarai atau daerah lainya di NTT yang mempunyai beberapa aset wisata. Dapat diatur atau ditetapkan sebagai berikut, pertama, bandara dan Darmaga. Bandara dan dargama adalah tempat masuk dan keluarnya para tamu. Di sini dapat disediakan bengkel budaya. Kegiatan rutin mereka adalah mementaskan beberapa tarian daerah, yang sekaligus sebagai tarian penjemputan para tamu. Selain itu memamerkan berbagai hasil karya yang khas, sebagai cendra mata. Harga dan kententun lainnya diatur dalam PERDA. Kedua, tempat Pariwasata. Misalkan ada lima tempat wisata yang menjadi sasaran para wisatawan. Di setiap tempat tersebut harus ditetapkan secara permanen tentang tarian dan karya yang dipamerkan. Usahakan di setiap titik harus menampilkan tarian dan karya yang beragam. Sehingga para wisatawan, tidak hanya datang untuk menikmati kekayaan alam NTT, tetapi juga keragaman budaya di NTT. Upah yang harus di bayar oleh para penikmat tarian dan jasa para aktor budaya tersebut diatur dalam PERDA. Pentingnya PERDA adalah untuk mengatur ruang gerak para aktor budaya disetiap titik pementasan, agar tidak memungut biaya sesuka hati. Selain itu, agar adanya sumbangan terhadap penambahan pendatan daerah.
Ketiga, bekerjasama deangn Para Pengusaha. Pengusaha yang dimaksudkan adalah para pemilik hotel. Hotel sebagai tempat strategis untuk mempromosikan hasil karya masyarakat pribumi. Hubungan kerjsama antar lembaga pemerintah dengan lembaga swasta ini harus dilaksanakan secara matang, agar tidak ada yang dirugikan. Keempat, Festifa budaya.Sebagaimana yang dijelaskan pada halaman sebelumnya, bahwa festifal budaya adalah ruang pembelajaran yang terbuka untuk umum. Pada momen ini, seluruh jenis tarian dan hasil karya masyarakat dipertontonkan di ruang publik. Termasuk misalnya, festifal tenun, anyaman, dan lain sebagainya. Di setiap daerah harus ditetapkan secara tetap, tentang tangal dan waktu pelaksanaan festifal tersebut. Oleh karena itu, tentang tanggal atau bulan pelaksanaan festifal disetiap daerah diatur dan ditetapkan oleh pemerintah Propinsi.
(b) Bengkel Budaya: Mengurangi Pengangguran
Membentuk, melegalisasikan, dan dimanajemen secara baik serta transparan adanya bengkel budaya sebagai lapangan kerja baru yang terbuka bagi semua orang. Selanjutnya, bengkel budaya sabagi sarana atau wadah untuk menggugah atau memotifasikan semua pihak untuk mengambil bagian dalam pelestarian budaya. Mengambil bagian seacara aktif dalam mempertahankan budaya, berarti ikut secara aktif pula dalam mempertontonkan budaya dan karya-karya lokal lainya kepada wisatawan.
Adanya dorongan untuk mempromosikan kekayaan budaya melalui bengkel budaya adalah sedikit demi sedikit mengurangi pengangguran. Dengan kurang atau menurunnya pengangguran, maka adanya peningkatan ekonomi. Adanya peningkatan ekonomi, maka berakibat pada meningkatnya Pendapatan Daerah (PD). Bila semuanya berjalan sesuai harapan, maka lambat laun terciptanya masyarakat mandiri, yang bertumbuh dalam ekonomi kreatif.

 

 

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button