Home / Sains / Opini: Manusia, Eudemonisme dan Resiko Modernitas

Opini: Manusia, Eudemonisme dan Resiko Modernitas

Everd Scor Rider Daniel. (foto: akun FB Everd Scor Rider Daniel)

Bagikan Halaman ini

Share Button
                                                                        Penulis: Everd Scor Rider Daniel *)

“Kita tidak memahami diri kita sendiri secara penuh dan tidak percaya diri atas pemahaman maupun pemikiran yang dibangun atas realitas yang ada. Kita cenderung lebih fasih memahami Indonesia berdasarkan konstruksi pemikiran orang (masyarakat) luar,” Erna Chotim (2016).

Menjadi manusia utuh adalah cita-cita cita-cita semua orang. Syarat manusia utuh ada pada kebahagiaan. Aristoteles adalah Filosof pertama yang merumuskan dengan jelas bahwa kebahagiaan adalah apa yang dicari semua manusia. Dalam etika Aristoteles disebut ‘eudemonisme’, dari kata Yunani eudaimonia yang artinya bahagia (Suseno, 2009).

Dalam buku berjudul “Menjadi Manusia”, Franz Magnis Suseno menarasikan pemikiran Aristoteles secara filosofis. Dalam proses pencarian, salah satu tujuan akhir manusia menurut Aristoteles adalah kebahagiaan. Menurutnya, ketika seseorang sudah bahagia, tidak ada yang masih diinginkan selebihnya. Namun, selama manusia belum bahagia, apa pun yang diperolehnya tidak akan membuatnya merasa puas. Tujuan dari asumsi yang dinyatakan Aristoteles adalah mau menjawab bagaimana manusia harus hidup dan apa tujuan hidup manusia. Untuk menjadi utuh, jalan menuju kebahagiaan adalah moralitas dan kebijaksanaan. Tujuan moralitas mengantar manusia sampai pada tujuan akhirnya. Moralitas adalah salah satu gejala kemanusiaan paling penting dan dapat disebut keseluruhan peraturan tentang bagaimana manusia harus mengatur kehidupannya supaya menjadi orang baik.

Pemikiran Aristoteles merupakan jalan rasional bagi manusia modern. Pemikirannya sangat relevan dengan dinamika hari ini, mengkritisi cara-cara atau sarana yang dipakai manusia menuju tujuan akhir yang disebut kebahagiaan. Namun kebahagiaan yang diinginkan manusia modern lebih dianalogikan dalam kepuasan, kepemilikan materi (aset, fisik) dan kekayaan. Niat manusia mengejar kenikmatan dan keuntungan diri sebenarnya merupakan suatu kekeliruan yang menyimpang di luar moral. Kemudian, cara mencapainya pun menggunakan segala daya (termasuk irasional) dalam mengejar kebahagiaan. Selain cara-cara menyimpang, esensi kebahagiaan yang dimaknai saat ini tidak pada konteks substansial, namun di atas pertentangan makna (contradictio in terminis). Kontradiksi moral menggambarkan manusia lebih memikirkan kepentingan diri (self interest). Pencarian identitas manusia menemui kesalahan sudut pandang, yaitu mengutamakan naluri dan jalur-jalur pragmatisme-praktis. Relasi logis pragmatisme-praktis membuka ruang bagi tumbuhnya sifat individualistik. Pragmatisme mengesampingkan esensi, lebih pada hasrat individu bukan kepentingan bersama sebagaimana tuntutan moral.

Baca Juga :  Habib Novel bicara soal penulisan "Fitsa Hats"

Kontradiksi moral dalam konteks self dapat dikategorikan dalam dua karakteristik: Pertama, manusia modern mencari segala bentuk kepuasan dan kebahagiaan demi diri sendiri (hedonisme). Kedua, manusia cenderung mengejar kehidupan praktis. Dalam dinamika pencarian diri, setiap manusia mengalami transformasi disertai kendala-kendala psikologis, baik dari dalam diri maupun pengaruh dari luar. Dinamika perubahan memposisikan manusia pada pilihan-pilihan. Misal, dalam konteks pemikiran terdapat dua probabilitas (kemungkinan) yaitu rasional dan irasional. Kemungkinan-kemungkinan dibalik pilihan menciptakan suatu persimpangan, apabila tidak rasional akan membawa manusia pada krisis identitas.

< 1 2 3 4>

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button