Home / News NTT / TTS tak mau dikalahkan DKI Jakarta, keluarga Tasoin Polisikan Kasat Reskrim

TTS tak mau dikalahkan DKI Jakarta, keluarga Tasoin Polisikan Kasat Reskrim

Ilustrasi saling lapor. (foto: prfmnews.com)

Bagikan Halaman ini

Share Button

MORAL-POLITIK.COM :  Entah pengaruh peribahasa Latin: “Tempora mutantur, et nos mutamur in illis” (waktu berubah dan kita berubah di dalamnya), tapi yang pasti fenomena saling lapor ke kepolisian di DKI Jakarta merambah ke Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT).

Memasuki babak baru 2017 bukan saja orang-orang di DKI Jakarta saling melapor ke pihak kepolisian terkait isu SARA, tetati di daerah kepolisian TTS, kedua oknum polisi saling lapor.

Kejadiannya bermula dari Brigpol Rudi Soik, Rabu (1/2/2017) lalu melaporkan Kasat Reskrim Polres TTS, I Dewa Gde Aditya, yang kemudian kembali dilaporkan oleh keluarga Markus Tasoin, pelaku kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

“Kami keluarga sudah sepakat, besok (10/2/2017) kami akan buat laporan di Polda NTT,” ujar Okran Tasoin, kepada wartawan, Rabu (8/2/2017).

Sebelumnya, Brigadir Polisi Rudi Soik, anggota Polres TTS melaporkan Kasat Reskrim Polres TTS, Iptu I Dewa Gde Aditya ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polres TTS. Laporan itu dilakukan pada Rabu (1/2/2017).

Dia menduga Aditya selaku Kasat Reskrim dan sejumlah anggota polisi telah merekayasa pembuatan laporan kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang dilaporkan Serli Hagar Maubanu (30), warga Desa Noenoni, Kecamatan Oenino, Kabupaten TTS untuk proses penyidikan. Kasus KDRT itu sendiri sudah dilaporkan setelah tiga bulan kejadian.

Kasat Reskrim I Dewa Gde Aditya kepada wartawan, Jumat (3/2/2016) mengaku siap menghadapi proses hukum terhadap laporan Rudi Soik.

“Kalau dia (Rudi) memiliki bukti silahkan saja dia melapor, saya siap menghadapinya,” pungkas Aditya.

 

Penulis : Semar Dju
Baca Juga :  Ari Ondok : Mutasi sudah menjadi hal biasa

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button