MORAL-POLITIK.COM: Tata cara pengumpulan masa untuk melakukan ibadah ketika Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) jadi peserta pertama, dari 51 peserta peran dalam pawai Prosesi Paskah tahun 2017.

Tata cara yang dimaksud adalah, proses pengumpulan jemaat lewat alat tiup Nafiri yang terbuat dari tanduk kerbau, yang ditiupkan oleh pemimpin agama kemudian masyarakat datang berkumpul untuk melakukan ibadah.

Peran itu dilakoni sejumlah jemaat dari GMIT yang berasal dari suku Helong. Dipilihnya suku Jemaat Helong yang membawakan peran tersebut, karena suku Helong merupakan suku pertama yang menempati Kota Kupang.

Prosesi Pawai Paskah tahun 2017 ini dilepas oleh Gubernur NTT Frans Lebu Raya, bersama Walikota Kupang Jonas Salean, Kapolda NTT, Ketua Sinode GMIT Pdt. Merry Kolimon, sejumlah Forkopimda, Tokoh Agama, dan Tokoh Masyarakat di Kota Kupang di depan Gereja Anugerah, Jalan El Tari, Kota Kupang, Senin (17/4/2017) pukul 14.00 wita.

Sebelumnya, Gubernur Frans dalam sambutannya menjelang pelepasan peserta prosesi Paskah mengatakan, paskah memberi makna pada semua kita untuk rela menderita tanpa melawan, rela berkorban, mengasihi dan saling memaafkan satu sama lain tanpa syarat.

“Pada 2011 lalu, di Kota Kupang para pemuda Kota Kupang menyalakan obor perdamaian. Mudah-mudahan dari NTT membawa perdamaian untuk Indonesia,” tambahnya.

Baca Juga :  Jonas Salean Diminta Copot Lurah Oesapa, Ada Apa??