Home / Sastra / Cerpen: Ayah…apakah engkau dengar???

Cerpen: Ayah…apakah engkau dengar???

foto: algonzaga.

Bagikan Halaman ini

Share Button

        Oleh: Algonzaga *)

 

 

MORAL-POLITIK.COM: Perjuangan hidup bukanlah seindah cerita khayalan di atas awan. Bukan pula seindah imajinasi dunia dongeng.

Ada hal nyata yang tidak sempat membuatku siap atau memberi isyarat, namun hal itu tiba-tiba terjadi begitu saja.

Apa yang harus dilakukan? Bagaimana menghadapinya? Apa yang anda pikirkan? Pertanyaan yang sering muncul di beranda Facebook, yang selalu mengajaku untuk mencurahkan semua pikiranku, entah apa komentar orang-orang nantinya aku hanya menuliskan yang sedang aku pikirkan, “aku ingin sejenak terbang dan bercumbu ria dengan bintang-bintang lalu kuminta dewi-dewi langit memanjakanku dengan memainkan biola bernada klasik, agar aku bisa tenang dari kepenatan di bumi”.

Lalu aku menikmati jempolan-jempolan dan komentar-komentar yang memuji, padahal bahasaku menggambarkan bahwa eku hanyalah seorang pelarian dari kenyataan hidupku sendiri, lebih tepatnya ada yang mengomentari “you are sneaky”.

Tidak bisa dipungkiri, terkadang persoalan hidup membawaku pada kelelahan dan putus asa, dan itu manusiawi. Menurutku, wajar-wajar saja. Toh setiap orang punca cerita dan air mata, sudah diatur oleh sang waktu. Tetapi jauh dari itu semua, tersirat sebuah petualangan yang menantang, membuat hidup semakin menarik dengan dinamika yang berbeda-beda.

Menghadapi dan keluar dari persoalan adalah menandakan aku manusia yang mampu hidup di tengah kesibukan dan perjuangan hidupku yang semakin berfariasi, ada kerinduan dan harapan akan datangnya seseorang yang sangat aku rindukan. Seseorang yang bisa mengerti perasaanku, mengerti sisi terdalam dari seorang lelaki, dia yang menuntunku dengan bikjak.

Perasaan yang menggebu dalam setiap tatapan menghantar kepergian senja. Sebuah alasan mengapa aku sempat meneteskan air mata dalam persembunyianku di balik gelap malam. Rindu yang terbungkus indah dibalik senyum manisku. Rindu yang sis-sia bila harus menuntut perwujutanya. Antara kenangan yang sempat membekas di awal kehidupanku kini menjadi sebuah rindu yang berrakar tunggal meramba disetiap sel-sel ingatanku. Sudah terlalu lama untuk mengenang kembali kisah itu.

Baca Juga :  Puisi: Siang ingin bertukar malam

Hari itu, tidak seperti hari-hari biasanya. Suasana riuh dusun kecil seketika berkabung mencekam jiwa. Suara ayam berkokok dan lolongan anjing kampung saling bersahutan membawa pesan duka. Seakan alam berkabung dalam kisah sedih manusia.

Kisah yang terlalu sedih untuk di dengar. Suara ratapan tangisan adalah satu-satunya suara yang bisa terdengar jelas.

Tangisan-tangisan itu memekik tak tertahankan berisi bahasa yang datang dari hati yang terdalam. Bunyi gong berisikan berita duka dari rumah kepala kampung terdengar sampai ke pelosok kampung tetangga.

Pencarian Terkait:

  • cerpen ayah

< 1 2 3 4 5 6 7 8>

Komentar Anda?

Tags : #

Bagikan Halaman ini

Share Button