Home / Sastra / Cerpen: Dimanakah Mawarku?

Cerpen: Dimanakah Mawarku?

Ilustrasi. (foto: vemale.com)

Bagikan Halaman ini

Share Button
Oleh: Feliks Hatam *)

 

 

MORAL-POLITIK.COM: Hari demi hari kulewati dalam kesendirian, tanpa seorang yang membuatku kuat.

Kulewati hari dalam sejuta rasa akan perasaan yang juga aku sendiri tak tahu kepada siapa perasaan itu kupersembahkan.

Siang dan malam aku lalui sebagaimana biasanya, malam minggu sebagai malam kebahagian bagi pemuda dan pemudi, tapi bagiku biasa-biasa saja.

Sempat terlintas dalam pikiranku, “mengapa ya, Malam Minggu itu disebut malam panjang dan malam yang paling bahagia bagi kaum muda?”

Mungkin karena malamnya pajang dari malam biasanya, atau mungking ada hal lain yang panjang dengan sendirinya, seperti tangkai mawar di taman itu.

Tapi jarum jamku tetap bergerak seperti biasanya. Sambil melihat jam didingku yang bergambar mawar tertata rapih menghiasi dinding apartemenku.

“Ah, mengapa aku jadi jadi gila?? Cukup. Cukup untuk memimikirkan hal itu lagi,” ngamukku dalam diam.

Lalu aku kembali melihat handphone (HP) ku untuk mengecek pesan masuk. Yah, yang ada hanya pesan masuk dari telkomsel.

Bila HP-ku berdering untuk menandakan ada pesan masuk. Itu sudah pasti pesan dari telkomsel. Sehingga akupun kadang-kadang tak penduli jika ada pesan masuk. Untuk beli pulsa non data pun tidak sering, jika dibandingkan dengan membeli pulsa data. Mau sms atau telpon siapa, coba?

Kecuali aku sedang ingat bapa, mama, adik dan teman-teman, baruku beli pulsa. Sedikit malas juga sih. Karena bagiku pesan dari telkomsel adalah tamu wajib di HP-ku. Bahkan setiap pagi, siang, sore dan malam. Bunyi Cring pada tabletku selalu memanggilku untuk membaca pesan dari Om telkomsel. Kadang aku berpikir, rupanya telkomsel tahu bahwa orang ini sedang sepih. Itulah kalimat penghibur diri.

Baca Juga :  Kisah Pesan Damai dari aksi berkuda Jokowi dan Prabowo...

< 1 2 3>

Komentar Anda?

Bagikan Halaman ini

Share Button