Home / Sastra / Cerpen: Kutinggalkan Hatiku di Kota Jingga

Cerpen: Kutinggalkan Hatiku di Kota Jingga

ilustrasi. (foto: sediqbale.blogspot.co.id)

Bagikan Halaman ini

Share Button
 Oleh: Fransiska J. Madu *)

Ini aku dengan cintaku,
Ini aku dengan rinduku,
Ini aku dengan kasih sayangku,
Ini aku dengan kehidupanku
Ini aku dengan segala yang ada,
Ini aku dengan pernikahanku

Je, nama yang biasa dipakai mama untuk memanggilku. Aku sama mama hidup hanya berdua sejak papa memilih untuk meninggalkan kami. Berdua dengan mama setiap saat adalah hal yang terindah dalam hidupku walau kadang sesewaktu aku iri melihat teman-temanku jalan bersama ayah mereka. Itu artinya, aku kadang rindu kehadiran papa dalam hidupku.

Meski hidup berdua, aku dan mama benar-benar menikmati setiap detik perjalanan waktu. Kehidupan kami tidak monoton, walau setiap hari melakukan rutinitas yang sama. Membuat kue, mengantarkan kue-kue itu di kios-kios pinggiran jalan, lalu sore hari kembali mengecek apakah ada yang laku atau tidak.

Untuk kebutuhan sehari-hari, selain dari hasil menjual kue, penghasilan kami didapat dari setoran sewa rumah peninggalan Opa. Walau kadang yang menyewa rumah tersebut telat membayarnya dengan berbagai alasan basi tapi masuk di akal.

Karena keadaan kami seperti itu, aku sama mama terpaksa memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikanku di perguuruan tinggi.

Aku sendiri tak pernah kecewa dengan keputusan itu. Sejak kecil mama sudah mengingatkanku bahwa mama tak sanggup menyekolahkan aku sampai di perguruan tinggi nanti.

Hingga sampai hari ini aku ingat bahwa 2 hari lagi aku akan merayakan ulangtahunku yang ke 21. Di setiap perayaan ulangtahunku, kami selalu merayakannya dengan sederhana. Taka ada lilin, kue ulang tahun yang mewah, apalagi pesta besar-besaran seperti makan bersama sahabat atau sejenisnya. Kami biasanya merayakan ulang tahun dengan doa. permohonan pun selalu sama, agar saya diberi kesehatan, makin teguh dalam iman dan harapan, menjadi remaja yang baik dan dekat dengan Tuhan.

Baca Juga :  Puisi: Daun dan Origami

Hari berganti hari, rasanya aku sudah mulai bosan dengan kehidupanku. Pernah berpikir untuk mencari pekerjaan di luar daerah, tapi tak ingin meninggalkan mama sediri.

Pagi ini, seperti biasa aku mengantarkan kue di kios dekat jalan raya. Bisnis kami sekarang sudah mulai bagus. Setidaknya bisa beli lauk untuk makan sehari-hari. Dan ketika saya berada tepat di depan kios itu, tiba-tiba seseorang menghampiri aku.

< 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11>

Komentar Anda?

Bagikan Halaman ini

Share Button