Home / Sastra / Cerpen: Sabtu petang menguburkan kebencian

Cerpen: Sabtu petang menguburkan kebencian

Ilustrasi. (foto: imgrum.org)

Bagikan Halaman ini

Share Button
Oleh: Feliks Hatam

 

 

MORAL-POLITIK.COM: Maratapi keterbatasan adalah hal hampa dalam menjelajah kehidupan yang misteri.

Ketakpastian akan hari esok adalah kesempatan mempersiapkan diri sejak dini di hari ini. Itulah hidup. Hidup yang selalu yang mempersiapkan. Hidup untuk selalu bersedia. Hidup yang selalu siap.

Hari ini adalah realitas. Keadaan saat ini bukanlah untuk ditangisi bila terbatas. Bukan untuk bersenang-senang bila berkecukupan. Namun semuanya adalah rahmat. Bila terbatas, itu bukanlah sebuah kutukan yang membawa ketakutan dan keresahan akan hari esok.

Namun sebagai pacuan untuk terus bangkit memanfaatkan setiap jarum jam yang terus berputar. Sebaliknya berkecukupan bukanlah batu sandungan untuk memandang orang lain dari atas, namun sebagai saluran untuk belajar bersyukur, bela rasa, dan berdiri sama tinggi dengan orang lain.

Itulah semangat dan kekayaan rasa yang dimiliki oleh seorang lelaki malang, yang akrab dengan panggilan Edy. Edy, namanya familiar bagi rekan-rekan sekolahnya pun di kampung halamannya.

Anak yang family background serba terbatas melihat waktu sebagai kesempatan untuk menjadi pribadi yang berguna bagi orang lain, bagi keluarga dan bagi keempat adiknya. Pribadi rajin, tekun, ulet, jujur dan sopan itu adalah mencontoh sikap dan ketekunan keluarganya.

Alhasil peria yang bertubuh atletis itu selalu menjadi nomor satu di sekolahnya. Akan tetapi siswa yang berkulit sawo matang itu, tidak menjadikan kehebatannya sebagai alat untuk menciptakan kesombangan, dan keangkuhan dengan teman-teman-temannya.

Pria yang sedang duduk di kelas II itu selalu menjadi penolong bagi teman-temannya bila ada kesulitan dalam mengerjakan pekerjaan Rumah.

Belajar kelompok, diskusi, mengerjakan tugas dalam kelompok belajar adalah jadwal tetap setiap malamnya bersama dengan teman-temannya.

Baca Juga :  Sampai engkau jemput hatiku kembali

Edy adalah pribadi yang humoris dan murah hati yang selalu siap membantu teman-temannya yang membutuhkan bantuannya.

Kebaikan dan kepandaiannya tidak hanya mendapat banyak pujian, dari sahabat, guru dan anggoata keluarganya, tetapi juga rentetan ejekan. Baik dari teman-teman yang beseberangan dengannya maupun dari lingkungan sosial.

Lantaran pria yang berambut lurus itu berasal dari keluarga yang sangat terbatas, bila ditanya soal finansial. Ejekan muncul dari lingkungan sosial, lantaran kedua orang tuanya tidak mempunyai pekerjaan tetap, berpenghasilan tergantung pada musim.

< 1 2 3 4 5>

Komentar Anda?

Bagikan Halaman ini

Share Button