Home / News NTT / Hendrik Kaborang jelaskan soal rusaknya peralatan e-KTP

Hendrik Kaborang jelaskan soal rusaknya peralatan e-KTP

Ilustrasi. (foto: solopos.com)

Bagikan Halaman ini

Share Button

MORAL-POLITIK.COM: Terhitung sejak 30 Maret 2017, pemerintah Kota Kupang tidak lagi melayani perekaman KTP elektronik (e-KTP).

“Penyebab Pemkot Kupang tidak lagi lakukan perekaman e-KTP karena satu-satunya alat perekaman yang selama ini diandalkan dan masih bertahan di Kecamatan Oebobo, akhirnya jebol juga. Sebelumnya, peralatan IT di lima kecamatan lainnya sudah rusak terlebih dahulu,” kata Sekretaris Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dispendukcapil) Kota Kupang Hendrik Kaborang kepada wartawan di Kota Kupang, Kamis (6/4/2017).

Dikatakan, sesuai prosedur pembuatan e-KTP, untuk mendapatkan fisik KTP Elektronik (e-KTP), masyarakat diwajibkan melakukan perekaman data di kantor kecamatan. Khusus di Kota Kupang, alat perekaman e-KTP ditempatkan di semua kecamatan. Namun, dalam beberapa bulan terakhir, hanya ada dua kecamatan yang melayani perekaman e-KTP. Yakni Kecamatan Kota Raja dan Oebobo. Pasalnya, alat perekaman e-KTP di empat kecamatan lainnya mengalami gangguan/kerusakan.

Menurtnya, semua proses perekaman e-KTP dipusatkan di kecamatan dan tidak ada perekaman e-KTP di Disdukcapil. Oleh karena itu, apabila alat perekaman di semua kecamatan terganggu, otomatis perekaman e-KTP terhenti.

“Bagi yang sudah melakukan perekaman, kami bisa keluarkan surat pengganti e-KTP. Untuk pencetakan fisik e-KTP belum bisa karena blanko masih kosong,” katanya.

Soal kerusakan alat perekaman di Kantor Kecamatan Oebobo, Hendrik mengaku belum mendapat informasi yang rinci mengenai kerusakan tersebut. Namun, apabila gangguan yang disebabkan karena kerusakan alat secara permanen, maka pihaknya akan berkoordinasi ke pusat. Sehingga peralatan yang rusak bisa segera diperbaiki.

Ia juga menghimbau masyarakat Kota Kupang untuk bersabar dan memberi waktu kepada Disdukcapil untuk menyelesaikan persoalan yang ada.

Penulis: Nyongki
Baca Juga :  Yohana Lisapali dan Wilem Foni: Hari Pahlawan ke-71 harus sarat makna

Komentar Anda?

Bagikan Halaman ini

Share Button