MORAL-POLITIK.COM: Satu-satunya cerita yang takkan pernah uzur dimakan waktu, hanyalah alkisah perihal perkawinan yang dilakukan di tempat ibadat.

Seperti halnya perkawinan Khetye Romelya Saba (Khetye) dengan Grefer Ekemolehena Dominggu Pollo (Get). Jauh sebelum Sabtu (8/4/2017) sebagai momentum religi bersejarah, mereka saling pandang, lirik, umbar pesona, mengejar khayal, memproklamirkan cinta antarmereka ke haribaan keluarga masing-masing.

Dawai-dawai cinta membahana, merebak harum kemuning fajar. Sepe-sepe menari-nari, tebarkan wewangian yang tak pernah dicumbui beragam hidung, sempurna.

Bianglala hati mereka pun menjadi worth to see (layak untuk dipandang) bukan saja oleh manusia, tapi segenap penghuni jagad raya, lalu terkatup lekat-lekat.

Sebait puisi sekonyong-konyong layak dilantunkan kepada Adinda berdua, hanya dalam khalbuku.

Keringkanlah air mata waktu silam, cintaku
Tegakkanlah kepala, busungkan dadamu
Laksana bunga-bunga menyemai jari-jemarinya menyambut mahkota fajar pagi
Ciumlah mata kalian dengan seulas senyum flamboyan, begitu moleknya.

Penantian waktu datangnya pangeran cinta mengusik manisnya khalbu permaisuri semata wayang. Hiruk pikuk panitia, tak sanggup uraikan setetes keringat pun.

Baca Juga :  Cintanya Menteri Susi kepada Papua