MORAL-POLITIK.COM:  Uskup Agung Kupang Mgr. Petrus Turang berkenan memimpin Misa Jumat Agung di parokinya, Katedral Kristus Raja Kupang di Kota Kupang, Jumat (14/4/2017) pukul 15.00 wita.

Misa Jumat Agung dirayakan setiap tahun untuk mengenang kisah sengsara Yesus, mati, dimakamkam, lalu bangkit pada hari yang ketiga.

Lebih dari 15 ribu umat Paroki Katedral Kristus Raja Kupang memadati semua ruas gereja, halaman hingga ke bibir-bibir jalan di depan gereja.

Puluhan aparat Kepolisian Polda NTT mengatur arus lalu lintas agar tidak terjadi kemacetan, kebisingan, yang bisa berekses pada perbuatan melanggar hukum.

Mgr. Petrus Turang ketika memberikan homili (khotbah) menuturkan bahwa setelah kita mendengar kisah sengsara Yesus menurut Yohanes, mereka berteriak Salibkan Yesus. Apa beda orang Yahudi dulu dengan kita sekarang ini? Mereka berteriak salibkan Yesus, lalu menyalibkan Yesus.

“Sekarang ini anak-anak muda ada yang memakai salib, bahkan lebih besar dari salib yang dipakai oleh Uskup. Sehingga kadang-kadang sulit dibedakan mana Uskup, dan mana bukan Uskup,” katanya disambut gelak tawa umat yang merasa diledekin.

Ia juga mengingatkan bahwa kita setiap kali datang mengikuti misa Jumat Agung dengan ekspresi yang sedih. Padahal, sambungnya, setiap kali kita mengingat kisah sengsara Tuhan kita Yesus Kristus, seolah-olah kita menyimpulkan bahwa Yesus datang untuk mati.

Baca Juga :  Temuan BPK Perwakilan NTT, Dinas PUPR siap...