Home / Opini / Opini: Ketika Suara Lirih Ibu Memanggil

Opini: Ketika Suara Lirih Ibu Memanggil

Ferdinand Hutahaean

Bagikan Halaman ini

Share Button
Oleh : Ferdinand Hutahaean *)

 

 

MORAL-POLITIK.COM: “My Mother was the most beautiful women I ever saw. All I am owe to My Mother. I attribute my succes in life to the moral, intelectual and physical education I received from Her”.

Begitulah George Washington Presiden Amerika Serikat ketika memimpin Amerika mendedikasikan hidupnya untuk seorang Ibu.

Terjemahan bebasnya kira-kira seperti berikut: Ibuku adalah wanita terindah yang pernah aku lihat. Seluruh diriku berutang pada Ibuku. Aku dedikasikan kesuksesanku dalam hidup untuk pendidikan moral, intelektual dan fisik yang telah aku terima darinya.

Sungguh indah kata-kata itu dan tentu mampu kita pahami maknanya dengan mudah, terang dan jelas. Pengabdian seorang anak kepada Ibu.

Di dalam politik ungkapan ini juga berlaku dan identik terjadi. Ibu Seorang Politisi Adalah Partai, Ibu Seorang Negarawan Adalah Bangsa. Adakah seseorang lahir menjadi politisi tanpa partai?

Adakah seseorang disebut negarawan tanpa hidup untuk bangsa? Saya mengajak pembaca untuk sama-sama menjawabnya dengan hati dan pikiran, karena jawaban kita akan menentukan sejauh mana kita akan mengabdi kepada Ibu dan mengabdikan hidup kepada Bangsa.

Saya ingin menarik sedikit cerita singkat yang terjadi kemarin tidak lebih dari 12 jam dihitung dari artikel ini saya tuliskan. Tulisan ini saya dedikasikan untuk para Kader Partai Demokrat, Anggota DPRD Fraksi Demokrat seluruh Indonesia yang sebagian bertatap muka dengan kami pada Acara Bimtek Pendalaman dan Orientasi Tugas Anggota FPD DPRD Kabupaten Kota seluruh Indonesia di Wisma Proklamasi markas DPP Partai Demokrat.

Atas nama kewajiban anak kepada Ibu, kami bersama Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono dan Sekjen Hinca Panjaitan melakukan rapat marathon membahas agenda kerja politik partai kedepan. Membahas tentang tujuan partai mewujudkan Indonesia Emas 2045.

Baca Juga :  Ini dia biografi R.A Kartini

< 1 2 3>

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button