Home / Sastra / Puisi: Dua Puluh Lima

Puisi: Dua Puluh Lima

ilustrasi. (foto: kilatstorage.com)

Bagikan Halaman ini

Share Button
Oleh: D Parera *)

 

 

Jarang angin membelaimu.
Sepasang merpati yang mendapati dirimu di cakrawala
Masih menunggu kabarmu dari awan.
Hujan tiada lagi.

Sebab itu, rindu tak mekar lagi.
Pulang pergi kauingatkan kepadaku betapa mulia masa belia.
Harum daun jambu dan bunga keladi sedang menunggumu
Di meja pertemuan mereka berdua.
Lampu pelita tidak pernah padam.
Air matamu mengalir basah.

Jembatan kenangan yang menghubungkan tepi jurang masa lalu
Satu dua lintasan lurus yang diciptakan oleh pertengahan jalan
Merupakan satu kemudahan yang tengah kuderai, kujejali.
Menanti di tepi, seperti permukaan saling menghubungkan.

Oepoi, 2015

 

*) Deodatus D. Parera lahir di Oepoli, 25 Juni 1990. Anggota Komunitas Sastra Dusun Flobamora ini pernah mengikuti Temu Sastrawan Indonesia Timur (Larantuka, 2013) dan Temu Sastrawan NTT 1 (Kupang, 2014). Tulisannya tergabung dalam Antologi Cerpen Wanita Sepotong Kepala, Penfui, 2012. Tulisan cerpen dan puisi-puisinya dapat dijumpai pada Majalah Sastra SANTARANG dan beberapa media lokal NTT.

Baca Juga :  Puisi: Aku Cinta NTT

Komentar Anda?

Bagikan Halaman ini

Share Button