Home / Sastra / Puisi: Sarjana

Puisi: Sarjana

ilustrasi. (foto: uib.ac.id)

Bagikan Halaman ini

Share Button
Oleh: D. Parera

 

 

Banggala, musiman
Singgala, seniman.

Rumah panggung parahyangan
Tempat sua dan bua menjalar.

Liur pedih di hadapanmu.
Keringat purnamegah mengambang
Dari kejauhan seperti sendirian.

Tak ada yang terbatas. Semua yang terbatas
Tak pernah terbatas. Keterbatasaan bukan terbatas.

Coba tentang cerita. Tidak terbatas ulir liurnya.
Tentang perjalanan meski sederhana, menjangkau semesta.

Apakah hidup mesti dibatasi? Garis lurus telah menyimpang
Dari ulurnya. Sementara garis pantai diterpa gelombang
Mengalir jauh ke kedalaman.
Seberapa dalam kita mesti berselam?
Apakah dengan tangan dan gagah kita patuh?
Dan memang jauh untuk menjadi yang tak terbatas.
Sebab, harum biru laut dan getar nadi meski ada sosok
Yang menggetarkannya. Selama hidupmu.

 

Oepoi, 2015.

 

 

*) Deodatus D. Parera lahir di Oepoli, 25 Juni 1990. Anggota Komunitas Sastra Dusun Flobamora ini pernah mengikuti Temu Sastrawan Indonesia Timur (Larantuka, 2013) dan Temu Sastrawan NTT 1 (Kupang, 2014). Tulisannya tergabung dalam Antologi Cerpen Wanita Sepotong Kepala, Penfui, 2012. Tulisan cerpen dan puisi-puisinya dapat dijumpai pada Majalah Sastra SANTARANG dan beberapa media lokal NTT.

Baca Juga :  Sungguh engkau berdusta lagi

Komentar Anda?

Tags : #

Bagikan Halaman ini

Share Button