Home / Profil / Bangun Pariwisata, sentuh kebutuhan masyarakat ekonomi lemah

Bangun Pariwisata, sentuh kebutuhan masyarakat ekonomi lemah

Gabriel Kennenbudi. (foto: v.j.boekan)

Bagikan Halaman ini

Share Button

MORAL-POLITIK.COM: Terlalu naif jika berpandangan bahwa membangun kepariwisataan berarti harus dirikan banyak Hotel Bintang 5.

Menurut Gabriel Kennenbudi, membangun kepariwisataan berarti pemerintah daerah ingin merubah cara pandang (perspective) dari fokus kepada masyarakat middle class (kelas tengah) keatas, menjadi ke masyarakat lower class (kelas bawah).

Ia beralasan, membangun kepariwisataan yang sesungguhnya berarti melibatkan semua komponen masyarakat. Sebab unsur-unsur kepariwisataan yang tak bisa diabaikan adalah Biro Perjalanan Wisata (BPW), Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI), Perhimpunan Hotel dan Restoran (PHRI), Paguyuban Penyelam Indonesia, dan Paguyuban Tenun Ikat, Paguyuban Tarian Tradisional, dan lain sebagainya.

“Membangun kepariwisataan itu bukan saja menyentuh pada titik sarana, tapi juga prasarananya. Ini berarti semua komponen yang ada di suatu daerah bisa dilibatkan secara aktif,” urainya ketika berdiskusi di kantor moral-politik.com, Jalan Nangka Nomor 77, Kelurahan Oeba, Kota Kupang belum lama ini.

Alumnus SMAK Giovanni Kupang yang kemudian melanglang buana sendirian selama 16 tahun di negara Jerman ini berujar bahwa NTT kaya obyek wisata, bahkaan Tuhan memberikan obyek wisata kepada NTT terindah di dunia, tak ada negara lain yang bisa menandinginya.

Ia menyebutkan Pulau Komodo di Manggarai Barat (Mabar), Danau Tiga Warna Kelimutu di Ende, Sao Wisata di Maumere, Flores Timur dengan Prosesi Sanama Santa, Lembata dengan Perburuan Ikan Paus, Alor dengan Taman Laut yang sangat elok untuk Menyelam (diving) atau snorkeling, begitupun Laut Nemberala di Rote Ndao, Pasola dan Sandalwood di Sumba Raya, Keindahan Terasering berbentuk jaring laba-laba di Desa Cancar, Kabupaten Manggarai, Keindahan Pantai dan Laut di Timor Raya, serta budayanya.

Terasering berbentuk jaring laba-laba di Desa Cancar, Kabupaten Manggarai. (foto: hidupsehatkangmaman.blogspot.com

 

Baca Juga :  Ahmad Dhani sebut Ahok bahaya laten NKRI

Bahkan “Awi” sapaan sehari-hari terhadapnya mengingatkan, membangun kepariwisataan berarti merubah cara berpikir (cerebration). Ia mencontohkan gebrakan yang dilakukan oleh Prof. Rhenald Kasali, seorang Guru Besar di bidang Ilmu Manajemen, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia memiliki cara praktis dalam mendidik dan mengubah pola pikir mahasiswanya di kelas.

< 1 2>

Komentar Anda?

Bagikan Halaman ini

Share Button