Home / Sains / Catatan bagi daerah penghasil migas, jangan seperti Lhokseumawe

Catatan bagi daerah penghasil migas, jangan seperti Lhokseumawe

Penampakan matahari senja jelang terbenam dari Waduk Kota Lhokseumawe. Waduk ini merupakan salah satu obyek wisata di kota tersebut(Kompas.com/Masriadi)

Bagikan Halaman ini

Share Button

MORAL-POLITIK.COM: Pada medio 1980-1990, Kota Lhokseumawe di Aceh merupakan tempat yang disukai pedagang. Perputaraan uang di sana begitu cepat.

Banyak pedagang senang berbisnis di Lhokseumawe. Apapun barang yang dijual di sana pasti laku dengan cepat.

“(Jadi pedagang) enak sekali ketika itu. Apapun yang mereka jual pasti laku,” kisah Syamsuddin, salah satu warga Lhokseumawe seperti ditulis harian Kompas, Jumat (19/5/2015).

Maka dari itu, tak heran kalau kota yang berada di tengah jalur timur Sumatera, antara Banda Aceh dan Medan, Sumatera Utara, itu dulunya dikenal dengan julukan “Kota Petrodolar”.

Hal itu bisa terjadi, karena penemuan gas dalam jumlah besar dan kehadiran PT Arun Natural Gas Liquefaction Co (NGL) di sana. Dampaknya, perekonomian pun tumbuh pesat.

Bak gula dikerubungi semut, awal kehadiran PT Arun NGL memicu berdirinya sejumlah industri yang bergantung pada gas, seperti perusahaan penghasil pupuk urea dan amoniak PT Pupuk Iskandar Muda.

Lalu berlanjut, perusahaan penghasil kertas kantong semen PT Kertas Kraf Aceh di Kabupaten Aceh Utara, pabrik penghasil pupuk urea PT Asean Aceh Fertilizer di Lhokseumawe, dan sejumlah perusahaan tambang minyak di Aceh Utara.

Peningkatan perekonomian di sana santer terdengar oleh banyak orang di luar daerah. Kehadiran perusahaan itu jugalah yang kemudian membuat banyak orang datang untuk beradu nasib di kota itu.

Namun, memasuki tahun 2000 kejayaan Lhokseumawe mulai memudar seiring produksi gas PT Arun NGL yang menurun dratis dan berhenti produksi pada Oktober 2014. Keadaan itu memaksa perusahaan lain yang bergantung pada gas ikut tutup.

Kini, cerita Lhokseumawe sebagai “Kota Petrodolar” tinggal kenangan. Perputaran uang yang lamban membuat daerah ini menjadi tak lagi menarik.

Baca Juga :  Penyebab daya saing infrastruktur RI kalah dari Malaysia

< 1 2 3 4 5 6>

Komentar Anda?

Bagikan Halaman ini

Share Button