Home / News NTT / Majukan kepariwisataan, bendung niat Anak NTT jadi TKI ‘Ilegal’

Majukan kepariwisataan, bendung niat Anak NTT jadi TKI ‘Ilegal’

Gabriel Kennenbudi. (foto: moral-politik.com)

Bagikan Halaman ini

Share Button

MORAL-POLITIK.COM: Idealnya pemerintah Provinsi (Pemprov) Nusa Tenggara Timur (NTT) harus sadar mengapa anak-anak NTT cenderung mencari kerja di luar daerah dan menjadi terkenal disana.

Pendapat tersebut dikemukakan oleh alumnus SMAK Giovanni Kupang, yang pernah mendulang ilmu dan pengalaman kerja di negara Jerman selama 16 tahun, Gabriel Kennenbudi di kantor moral-politik.com, Jalan Nangka 77, Kelurahan Oeba, Kota Kupang, Senin (8/5/2017) petang.

Gebi menuturkan bahwa ironi Pemprov NTT terletak pada pembiaran terhadap anak-anak muda untuk merantau di Pulau Jawa, DKI Jakarta. Bahkan katanya, ada puluhan ribu orang yang terpaksa menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri dengan berbagai ragam konsekuensinya.

Ia pun  bercerita pengalamannya sewaktu berada di Jerman. Katanya, setiap petang ada guru yang memberikan pelajaran secara gratis di setiap sekolah yang ada kelurahan.

Macam-macam guru yang datang. Guru Bahasa Inggris, Belajar Retorik, Belajar Bahasa Perancis, Italia, dan bahasa-bahasa lain yang diminati anak-anak muda.

“Orang-orang di luar negeri haus sekali akan hiburan yang berkaitan dengan kepariwisataan. Misalnya tarian-tarian tradisional, lagu-lagu daerah, dan melancong ke obyek dan daya tarik wisata (ODTW) yang tiada duanya di NTT,” katanya menambahkan.

Idealnya, harap dia, di NTT juga meniru pola yang diterapkan oleh Jerman. Membuka kursus-kursus sesuai dengan bakat dan minat anak-anak muda di bidang kepariwisataan, karena dari situ mereka dibina untuk menjadi entepreuner muda berbakat guna memajukan kepariwisataan di daerahnya sendiri.

Baca Juga :  Pembangunan sarana prasarana Bantuan IFAD dinilai asal jadi

< 1 2>

Komentar Anda?

Bagikan Halaman ini

Share Button