Home / Opini / Opini: Kembali ke Pancasila (Refleksi Pekan Pancasila)

Opini: Kembali ke Pancasila (Refleksi Pekan Pancasila)

Fhelyks Hatham. (foto: akun FB Fhelyks Hatham)

Bagikan Halaman ini

Share Button

                                                                                                    Oleh: Fheliks Hatam *)

 

 

MORAL-POLITIK.COM: Masih kuat dalam ingatan kita, pada gerakkan seribu lilin di beberapa kota di negeri ini. Termasuk di beberapa Kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Gerakkan itu, tak kalah saat Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di vonis bersalah atas kasus penistaan agama Islam. Atas kasus itu, Gubernur non aktif DKI tersebut dijatuhi hukuman dua tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Jakarta. Akan tetapi ada hal yang lebih penting dari gerakkan seribu lilin tersebut yang patut direfeleksikan berkenaan dengan 72 tahun lahirnya Pancasila di Indonesia. Karena itu uraian ini mencoba untuk menjawab tiga pertanyaan. Pertama, mengapa masyarakat Indonesia menyalakan lilin saat Ahok telah dinyatakan bersalah? Kedua, apakah hanya berhenti pada aksi nyalakan lilin? Ketiga, bagaimanakah tindakan kita agar lilin-lilin itu tetap menyala sehingga pada saat yang sama kita diarahkan untuk kembali pada Pancasila sebagai lilin bangsa yang tetap menerangi negeri ini?

Menyalakan seribu lilin tidak sedang membela Ahok yang kalah dalam Pilgub DKI atau membenci Pengadilan Tinggi Negeri Jakarta yang menvonis Ahok bersalah, ataupun mebenci kubu yang menang dalam kompetisi Pilgub DKI. Mengalahkah itu semua, gerakkan seribu lilin sebagai panggilan nurani masyarakat Indonesia.

Gerakkan nurani tersebut sebagai wujud masih tingginya harapan dan keriduan masyarakat akan pemimpin yang adil, jujur dan kredibel, serta masih kuatnya perhatian masyarakat akan pemimpin yang berjalan selaras amanat negara yang tercatat dalam undang-undang dan cita-cita Pancasila. Ditengah kerinduan itu, Ahok dipandang sebagai figur pemimpin yang dapat membebaskan rakyat dari ketimpangan sosial akibat korupsi.

Kenyataan inilah yang memanggil setiap pribadi secara spontan untuk menyuarakan kebenaran, di atas Undang-Undang dan Pancasila. Karena itu, substansi dari gerakkan menyalakan lilin adalah sebagai ungkapan penyesalan rakyat kepada negara, bahkan dunia akan tindakan-tindakan yang berlawanan dengan hukum dan nilai kemanusiaan, dan masih tingginya kerinduan masyarakat akan pemimpin yang berani jujur, pemimpin yang tulus melayani rakyat, tokoh publik yang bersih (tulus) dalam memperjuangkan nasib rakyat, serta pelaksanaan demokrasi yang jujur tanpa tekanan, sekaligus menolak tokoh publik yang “memanipulasi perjuangan dan kesadaran”.

Baca Juga :  Bagian tubuh ini yang diharapkan wanita untuk dijelajahi pria

Manipulasi perjuangan adalah perjuangan yang mengatasnamakan kepentingan rakyat untuk “menggemukkan” kantong sendiri. Korupsi, pembangunan yang menomorduakan kualitas adalah akibat dari manipulasi perjuangan, serta tindakan-tindakan politik yang tidak menjujung tinggi keberagaman adalah manipulasi kesadaran. Praktek-praktek tersebut sudah jelas menyimpang dari kompas bangsa, seperti pancasila, UUD 1945 dan Bhineka Tunggal Ika. Sebab dalam tataran ini, Pancasila mempunyai konsistensi dengan produk-produk perundan-udangan lain, memiliki koherensi antar sila, dan korespondensi dengan realitas sosial (Kompas, 30/5/2017).

< 1 2 3 4>

Komentar Anda?

Tags : #

Bagikan Halaman ini

Share Button