ilustrasi. (foto: liputan6.com)

 

 

MORAL-POITIK.COM – Seorang Opa yang melakukan tindakan pelecehan seksual kepada anak di bawah umur di Kampung Maleset, adalah pensiunan pegawai negeri sipil di Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang.

“Iya benar pelaku yang melakukan seksual Cristian Fanda (60) tahun itu mantan pegawai negeri sipil (PNS) di Undana Kupang, dan istrinya Adolfina Fanda, yang melakukan penganiayaan kepada korban seksual (MA),” kata Sitti Nurmala sebagai Oma kandung kepada Moral-politik.com, Selasa (20/6/2017).

Menurut Sitti, sangat disayangkan dalam kasus yang menipa kepada korban MA, dimana sebelumnya korban di cabuli oleh Opa Cristian berulang kali di rumahnya dengan iming-iming mau memberikan uang ke korban Rp. 50.000 satu kali kencan jika korban melayaninya.

“Jika tidak melayanipun rumah milik nenek dari korban MA diancam oleh pelaku akan dibongkar secara paksa. Akhirnya terpaksa korban dengan ketakutan memenuhi semua permintaan pelaku, sehingga pelaku Cristian Fanda berhasil melampiaskan nafsunya kepada korban MA,” jelas Sitti berdasarkan pengakuan korban MA.

Sebelumnya diberitakan, merasa tak puas behubungan seksual dengan istrinya, Cristian Fanda (60), warga Jalan Ikan Kombong, RT.016/RW.06 Kampung Maleset, Kecamatan Alak, Kota Kupang, tutup hati dan pikiran melampiaskan hasrat seksualnya pada anak di bawah (13) berinisial (MA).

“Cristian Fanda meminta MA, warga RT.05, RW.02, Kelurahan Nunbau Sabu, Kecamatan Alak, Kota Kupang, melakukan oral seks berulang kali dengan iming-iming memberikan uang sebesar Rp. 50 ribu,” kata keluarga korban Oblata A.U Bella saat dihubungi moral-politik.com, Senin (19/6/2017) malam.

Kejadian itu bermula, berdasarkan keterangan MA kepada ibunya, pada bulan Januari atau bulan Februari 2017 pelaku Oni Sakarias mendatangi rumah pelapor Cristian Fanda untuk bermain. Pada saat itu pelaku Oni mengajak korban (MA) untuk latihan motor di jalan bawah Tenau Kupang.

Baca Juga :  Pemkot Kupang Tambah 2.400 Lampu Jalan

Pada saat latihan motor pelaku 1 Oni Sakarias mulai reaksi bejatnya dengan cara meramas buah dada si korban MA. Karena tidak tahan lagi dengan ramasan buah dada si korban, pelaku Oni Sakarias mulai ajak si korban untuk melakukan hubungan seksual.

“Saat itu pelaku Oni membawa korban ke rumahnya lalu melampiaskan bejatnya sebanyak dua kali dan di hotel berulang kali,” kata korban Oblata.

Perbuatan pelaku Oni cabuli korban berulang kali bahkan belasan kali, mulailah dijual di Cristian Fanda pada bulan Februari. Pada saat itu Oni mengajak korban untuk bertemu di rumah pelaku Cristian di rumahnya. Sesampai di rumah Cristian, ia mulai bujuk korban untuk berhubungan badan dengan iming-iming akan memberikan uang Rp. 50.000.

Saat diajak oleh pelaku Cristian, korban tidak mau penuhi permintaan pelaku Cristian, karena korban tidak melayani permintaan itu, pelaku mengancam korban, kalau kamu tidak mau saya bongkar rumah kamu nanti!

Dengan ancaman seperti itu, korban MA merasa ketakukat dan terpaksa korban pasrah saja, dari ancaman kejam itu pelaku Cristian berhasil melampiaskan seksualnya kepada korban berulang kali.

Pada bulan Maret 2017 pelaku mengajak lagi korban untuk berhubungan seksual dengan ancaman yang sama, akhirnya saat itu korban turuti semuah permintaan pelaku.

Akan tetapi pada saat pelaku melakukan hubungan seksual kepada korban sambil berjanji akan memberikan uang Rp. 50.000 setelah berhubungan badan selesai.

Pada esok harinya, pelaku belum penuhi janjinya kepada korban, kemudian korban sms ke nomer pelaku bilang, Opa mana uang yang opa janji itu? Saat sms ternyata istri pelaku bernama (Adolfina Fanda) yang membaca sms tersebut.

Setelah membaca sms itu, istri pelaku langsung pergi cari korban. Saat istri pelaku Adolfina Fanda mencari korban di rumah, korban langsung lari menyembunyikan diri di dalam perahu di pantai MBS.

Baca Juga :  Kadis Mangi keluhkan pengajuan tambahan Blangko e-KTP

Istri pelaku Cristian, Adolfina melihat korban sedang bersembunyi di celah perahu, langsung pergi menangkap korban dan dianiaya dengan batu kayu sampai kepalanya pecah.

Menurut Bella, saat itu korban dengan mandi darah langsung dibawa oleh Omanya ke orang tua kandungnya di Oesao, Kabupaten Kupang, untuk diberitahu bahwa korban MA dianiaya pelaku.

Dua hari kemudian orang tua korban datang di keluarganya ke Namosain bahwa MA selain dianiaya, dicabul oleh suami terlapor tiga.

Atas kejadian itu, kelurga korban Blla, langsung melaporkan peristiwa itu ke Mapolres Kupang Kota dengan nomor laporan polisi: STTLP/275/III/2017/SPKT Resort Polres Kupng Kota 30 Maret.

Penulis: Semard Dju