MORAL-POLITIK.COM: Pansus angket KPK berencana menindaklanjuti pernyataan terpidana Tipikor Muchtar Effendi yang menuding penyidik senior KPK Novel Baswedan telah mengambil alih gratifikasi dari koruptor.

Novel dituding menerima 50 kamar indekos di Bandung, Jawa Barat.

Bahkan, dalam tudingan itu, indekos telah beralih nama menjadi miliki Novel Baswedan atas bantuan notaris. Rencananya, peninjauan itu akan dilakukan pekan depan.

Rencana ini merupakan hasil kesepakatan dari rapat evaluasi kinerja Pansus angket KPK sejauh ini.

“Kita ini akan turun ke bawah, ingin mengecek. Karena kemarin menurut Muchtar Effendi Novel Baswedan mengambil rumah orang, rumah kos 50 pintu di Bandung dan sekarang sudah beralih kepada nama Novel Baswedan,” kata anggota Pansus angket KPK, Eddy Kusuma Wijaya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (26/7/2017).

Eddy menyebut Novel mendapat indekos itu usai mengancam sang koruptor agar memberi sesuatu agar tidak ditangkap KPK. “Orang itu ditakut-takuti akan ditahan. Karena orang itu takut, maka rumah (indekos) itu serahkan kepada Novel Baswedan melalui tukar guling perkara,” tegasnya.

Selain ke Bandung, kata Eddy, Pansus juga akan berkunjung ke kawasan Depok dan Kelapa Gading melihat rumah yang dijadikan KPK sebagai lokasi penyekapan keponakan Muchtar, yakni Niko Panji Tirtayasa.

Keterangan ini didapat dari Niko saat rapat dengar pendapat umum (RDPU) dengan Pansus angket KPK, Selasa (25/7).

Baca Juga :  Ceritanya Tommy Soeharto dielu-elukan jadi Presiden