ilustrasi. (foto: swiss-belhotel.com)

 

MORAL-POLITIK.COM – Kembali beroperasinya Pub dan Karaoke di Hotel Swiss Bellin, Jl. Timor Raya, Kelurahan Pasir Panjang dipertanyakan Anggota Komisi I DPRD Kota Kupang, Adrianus Talli.

Pasalnya keberadaan Pub dan Karaoke itu berhadapan langsung dengan Gereja GMIT Talitakumi Pasir Panjang, dan keberadaan Pub dan Karaoke diragukan mempunyai ijin dari pemerintah.

“Sudah ada sejarah buruk soal keberadaan Pub dan Karaoke di Swiss Bellin Hotel. Pertama kali hotel tersebut beroperasi Pub dan Karaoke juga dibuka, tapi karena sering terjadi keributan maka ditutup. Bahkan tutup buka tempat karaoke tersebut terjadi beberapa kali,” kata Adrianus Talli kepada moral-politik.com di kediamannya, Jumat (30/6/2017) kemarin.

Talli mengatakan, baru-baru ini dirinya mendapat kabar bahwa Pub dan Karaoke di Hotel Swiss Belin telah beroperasi kembali, sehingga atas info tersebut, dirinya langsung mengecek kebenarannya, dan ternyata Pub dan Karaoke tersebut telah beroperasi kembali selama tiga bulan.

Yang menjadi pertanyaan, katanya, apakah beroperasinya Pub dan Karaoke tersebut sudah mengantongi ijin atau belum, sebab kalau sudah ada ijinnya, pasti warga setempat, pihak pemerintah setempat, dan pihak gereja sudah pasti dihubungi.

Menurutnya, untuk mengeluarkan ijin dari pemerintah bagi tempat hiburan, maka perlu persetujuan dari masyarakat dan gereja.

“Tapi sampai saat ini pihak masyarakat dan gereja sepertinya tidak pernah dihubungi. Sedangkan kalau tidak ada ijin dirinya mengharapkan pemerintah bertindak tegas dan menutup Pub dan Karaoke tersebut,” tambahnya.

Talli mengaku kecewa dengan beroperasinya tempat hiburan tersebut, karena letaknya persis di depan gereja, dan tempat karaoke tersebut bukan karaoke keluarga seperti Happy Puppy, tapi tempat karaoke tersebut juga menyediakan gadis karaoke dengan dandanan yang seronok untuk menemani para tamunya bernyanyi.

“Kalau karaoke keluarga yang letaknya di depan gereja sempat mendapat protes, apalagi kalau tempat karaoke yang menyediakan gadis pendamping dengan dandanan seronok,” katanya.

Secara pribadi, pungkas politisi PDIP Kota Kupang ini, dirinya tidak setuju dengan keberadaan tempat hiburan itu, karena sudah sering terjadi kekacauan yang memakan korban. Sehingga pemerintah sebaiknya menutup saja tempat itu.

 

Penulis: Nyongki