Home / Gallery / Aksi nekad Gaspoll ke Gunung Megalitikum Jolotundho Ponorogo

Aksi nekad Gaspoll ke Gunung Megalitikum Jolotundho Ponorogo

Bagikan Halaman ini

Share Button

MORAL POLITIK : Hari Rabu 27 April 2016 r2b berenca ikut treking bareng temen-temen di Fans Page Ponorogo ke daerah Karang Patihan, Balong, Ponorogo.

Di desa ini, banyak sekali obyek wisata yang lagi nge-trend. Mulai dari bukit beruk, selo Jolotundho sampai gunung teletubies. Apa daya saya tertinggal rombongan.

Ini adalah kali pertama ke Karang Patihan. Desa nan damai dengan sotonya yang uenakk tenann. Sayangnya, penanda arah ke masing-masing objek tidak jelas. Saya mengikuti petunjuk arah ke gunung beruk, lha kok malah ketemunya gerbang selo Jolotundho di sebuah pertigaan. Dan disitu, adanya ya cuma ini? waduhhhh padahal tadi kan penunjuk jalan dari jalan besarnya Gunung Beruk?

Setelah gerbang ada banyak penunjuk jalan bertuliskan Jolotundho? waduhhh piye iki pak lurahhhh???

Walhasil saya tersesat sendirian ke Jolotundho Ponorogo.

Situs atau tempat ini sudah lama dijadikan tempat tirakat. Maksudnya sirik? ya belum tentu too. Misalnya saya setelah sholat Isyak lalu pergi ke gunung ini. Terus duduk di atas batuan berdzikir pada Allah SWT sembari menikmati kerlip bintang, pancaran rembulan dan suasana cahaya lampu kota, apakah itu syirik? ya enggak to?Selo Jolotundho Ponorogo 1

Kembali ke Selo Jolotundo Ponorogo.

Melepas penat setelah gaspoll melewati medan yang cukup fun dan menantang. Saya duduk disebuah batu yang menjorok. Mata saya memandang ke arah lembah gunung. Yaahhh jadi deh saya berkhayal jadi Raja Airlangga yang bersembunyi di gunung ini dari kejaran kerajaan wura-wuri dan Sriwijaya.

Berdasarkan Prasasti Pucangan yang ditulis tahun 1006M/928 saka. Saat Airlangga, putra raja Udayana Bali sedang menikah dengan Putri dari Raja Dharmawangsa, dari Kerajaan Sanjaya/Mataram Kuno yang saat itu pusat ibukotanya baru saja pindah dari Jogja ke Madiun. Tiba-tiba diserang oleh Kerajaan Sriwijaya.

Baca Juga :  Anjing bikin massa pendukung Prabowo-Hatta kesal...(1)

Prasasti itu menulis kisah pelarian Airlangga bersama Rsi Narotama ke daerah Giriwana, di perbatasan Ponorogo dan Wonogiri. Selama pelarian, dia digelari masyarakat sebagai Prabu Kelana Suwandana. Dia mengkonsolidasi kekuatan dengan membuat seni Reyog, dan ketika sudah dirasa cukup, dia berhasil merebut membebaskan tanah Jawa dari cengkeraman Sriwijaya lalu mendirikan lagi kerajaan Kahuripan sebagai penerus dari Mataram Kuno.

Di Ponorogo, peninggalan Airlangga semasa pelarian ada 3. Pertama adalah seni Reyog. Kedua adalah situs Watu Dukun di kecamatan Sampung dan ketiga ya ini, petilasan Selo Jolotundho Ponorogo.

< 1 2>

Komentar Anda?

Bagikan Halaman ini

Share Button