Home / News NTT / Andre Koreh kisahkan wafatnya Simpai Barnabas usai Shorinji Kempo World Taikai 2017

Andre Koreh kisahkan wafatnya Simpai Barnabas usai Shorinji Kempo World Taikai 2017

Kontingen Indonesia yang dipimpin Ketua Umum KONI NTT Frans Lebu Raya. (foto: johanis toby/moral-politik.com)

Bagikan Halaman ini

Share Button

MORAL POLITIK : Kebahagiaan yang baru saja mekar merona di negeri Paman Sam, San Mateo California, USA, tempat dilangsungkannya pertandingan Shorinji Kempo World Taikai 2017 tiba-tiba lenyap dimakan waktu.

Pasalnya seorang dedengkot Kempo pendiri Kempo dan pelatih Kempo di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Barnabas Ndjoerumana, SH telah berpulang ke pangkuan Allah Yang Maha Kuasa.

Peristiwa kepulangan Simpai Barnabas bisa dikatakan jauh lebih cepat dari semilir angin yang menyapu-nyapu dedaunan pohon.

Barnabas Ndjoerumana (kanan). foto: johanis toby/dinas pupr ntt/moral-politik.com

 

Mengacu pada hasil komunikasi media ini dengan Ketua Harian Komite Olah Raga Nasional Indonesia (KONI) NTT Andreas W. Koreh melalui media sosial (Medsos) WhatsApp, Saptu (5/8/2017) Pukul 08.40 WITA, dirinya menulis bahwa “Telah meninggal dunia dengan tenang Bpk. Barnabas Ndjoerumana, SH (simpai Nabas) di atas pesawat Cathay Pasific dengan No penerbangan CX 873 penerbangan dari San Fransisco menuju Hong Kong pada pukul 04.00 waktu San Fransisco (4 Agustus, San Fransisco ) atau pukul 19.00 WITA (5 Agustus, Indonesia) karena sakit yang memang sudah lama dideritanya yaitu komplikasi jantung dan paru-paru,” demikian antara lain tulis Andre Koreh kepada moral-politik.com, Sabtu (5/8/2017).

Ketua Andreas menjelaskan, sejak awal rencana keberangkatan kami sudah menyarankan kepada Pak Nabas untuk tidak ikut lantaran melihat kondisi sakitn yang dideritanya, namun karena kecintaan dan kemauan kerasnya untuk menyaksikan anak-anak didiknya bertanding di world championship shorinji Kempo di San Mateo California, USA dari tanggal 27 Juli 2017 s/d 3 Agustus 2017, sehingga beliau tetap diikutkan dalam rombongan.

“Selama di USA Pak Nabas selalu bersama anak-anak didiknya baik saat latihan maupun saat study sesion selama 3 hari, terlebih saat pertandingan, walaupun dengan menahan dan melawan derita sakitnya,” katanya.

Baca Juga :  Mgr. Petrus Turang bicara soal Kerukunan Beragama di NTT

< 1 2 3>

Komentar Anda?

Bagikan Halaman ini

Share Button