Home / Sejarah / Bung Karno di Bengkulu diminta cari suami untuk 300 gadis

Bung Karno di Bengkulu diminta cari suami untuk 300 gadis

Presiden RI Pertama Sukarno

Bagikan Halaman ini

Share Button

MORAL POLITIK : Diasingkan dan dijauhkan dari rakyatnya menjadi bagian dari perjuangan berat Presiden pertama RI Sukarno.

Dari daerah ke daerah, dari penjara ke penjara telah dilalui oleh Bung Karno sebelum dan sesudah kemerdekaan Indonesia.

Bengkulu menjadi salah satu tempat pengasingan Bung Karno setelah berpindah dari Ende, Nusa Tenggara Timur. Setelah lima tahun diasingkan di Ende, Belanda memindahkan Bung Karno ke Bengkulu. Belanda khawatir wabah malaria mengancam nyawa Bung Karno.

Tekanan untuk memindahkan Bung Karno dari Ende disuarakan para tokoh di Batavia, salah satunya Mohammad Husni Thamrin. Thamrin yang saat itu anggota Volksraad (Dewan Rakyat) di Hindia Belanda meminta pemerintah Belanda segera memindahkan Bung Karno dari Ende.

“Kami meminta tuan bertanggung jawab terhadap kesehatan Bung Karno. Sukarno sakit parah, bila Sukarno meninggal, Indonesia dan dunia akan menunding Tuan sebagai orang yang bertanggung jawab atas pembunuhan ini,” ucap Thamrin kepada pimpinan Volksraad.

Belanda pun akhirnya memindahkan Bung Karno. Dipilihlah Bengkulu sebagai tempat pengasingan selanjutnya.

Ruang kerja ini merupakan salah satu ruangan favorit Bung Karno untuk melakukan aktifitas selama diasingkan di Bengkulu tahun 1938 hingga 1942 (Liputan6.com/Yuliardi Hardjo)

 

Setiba di Bengkulu, Bung Karno menggambarkan kota tersebut saat itu sebagai kota yang masyarakatnya masih feodal, tapi mempunyai suasana alam yang cukup indah.

“Masih sangat kolot, orang-orang perempuan menutup rapat-rapat tubuhnya. Mereka jarang menemani sang suami.,” ucap Bung Karno, dikutip dari Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia karya Cindy Adams.

Bung Karno mengaku ingin mengubah pola pikir masyarakat yang disebutnya sangat kolot. Karena itu, dia banyak menyampaikan gagasan dan pemikiran baru di hadapan masyarakat. Sebagian masyarakat menerima, tapi ada saja yang menolak. Bung Karno bersedih karena adanya penolakan itu.

Baca Juga :  Ini Penyebab Arab Saudi tidak Pernah Membantu Palestina

< 1 2 3>

Komentar Anda?

Tags : #

Bagikan Halaman ini

Share Button