MORAL POLITIK : Dua kubu politik yang terpolarisasi ini menurut Petrus, akan tarik-menarik adu kekuatan bahkan saling menegasikan yang satu terhadap yang lain.

Penetapan Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) niscaya memiliki resonansi politik yang luas. Bukan saja bagi peta perpolitikan secara nasional, tetapi juga bagi konstelasi politik di NTT.

Betapa tidak, posisi Setya Novanto sebagai Ketua Umum Golkar dan anggota DPR dari Dapil II NTT, memiliki pengaruh sangat kuat dalam mengendalikan Partai Golkar di NTT.

Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) Petrus Selestinus mengatakan, kuatnya pengaruh Novanto akan mengganggu proses pencalonan Gubernur/Bupati di internal Golkar bahkan terhadap partai politik lain yang sudah membangun koalisi dengan Partai Golkar dalam menghadapi pilgub/pilbup serentak tahun 2018.

Tarik-menarik kekuatan kubu politik di Golkar, kata Petrus, sulit terelakkan karena Golkar pasti terpolarisasi dalam beberapa kubu politik di NTT, mengikuti kubu-kubu yang muncul di pusat.

“Ada kubu Ibrahim Medah yang didukung mayoritas DPD Golkar di NTT dan ada kubu di luar Ibrahim Medah yaitu Melki Laka Lena yang merasa punya cantelan langsung dengan Setya Novanto. Bahkan kubu-kubu yang terpolarisasi di NTT akan mengikuti kekuatan kubu-kubu yang muncul di pusat yang hendak menanamkan pengaruhnya di NTT dan daerah lainnya,” kata Petrus di Jakarta, Sabtu (22/7/2017) yang lalu.

Dua kubu politik yang terpolarisasi ini, menurut Petrus, akan tarik-menarik adu kekuatan bahkan saling menegasikan yang satu terhadap yang lain dalam memperebutkan rekomendasi bakal calon Gubernur/Bupati/Walikota, sebagai akibat status tersangka Setya Novanto.

Baca Juga :  Temuan BPK Perwakilan NTT, Dinas PUPR siap...